Teruntuk Bapak di Surga (Ahmad Warson Munawwir)

karya: Dewi Habibatul Alawiyah* Assalamualaikum Bapak apa kabar? Sudah krasankah di surga? Sudahkah Bapak bersua dengan Sang Pencipta? Dan sedang apa Bapak disana?   Bapak Andai boleh memilih Aku ingin mengenalmu dengan tanpa cerita Yang tersurat di buku ataupun media Tapi takdir tak berjalan sesuai pilihanku Nyatanya aku mengenalmu setelah empat tahun kepulanganmu Sekedar mencuri dengar perbincangan santri lawas Atau menyimak kisah dari kerinduan Ibu padamu   Bapak Ku lihat mereka begitu bahagia dan bangga Menikmati hari lalunya menjadi santrimu Mendapatkan senyuman hangat darimu Serta mengabdikan dirinya pada ndalemmu Seolah surga mereka ikut bersamamu   Bapak Aku iri kepada mereka Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Aku Terbangun di Sepertiga Malam

Oleh: ikhwan din* Tulisan ini untuk diriku dan kalian—siapapun yang sedang berjuang di perantauan. Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam. Ya, tak seperti biasa santri santri lakukan di tengah malam yang bangun untuk menunaikan “tahajud”. Kali ini aku terbangun. Dengan wajah yang masih berantakan, aku duduk di atas alas tempat tidurku. Sambil menengadahkan kepalaku ke atas, menatap langit-langit kamar yang sengaja kugelapkan. Bagaimana bisa aku tertidur lelap? sedang orangtuaku disana hanya mampu memejamkan mata barang satu jam-dua jam saja Bagaimana aku bisa makan dengan lauk yang enak? sedang orangtuaku di rumah, hanya makan dengan lauk yang sangat sederhana. Bapak Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Apa Salah dan Dosa Santri Putri, hingga Kungapusi Mbah Kiai

Sebelum Tahun 1985 Ponpes Krapyak adalah Pesantren khusus laki-laki, kecuali Komplek Nurussalam yang diasuh oleh Mbah KH. Dalhar Munawwir. Saat itu kemanapun anda memandang, yang nampak di sudut Pesantren hanyalah Makhluk ‘Pecisan’ dan ‘Sarungan’, yang kadang-kadang ‘ora celonoan’ atau tidak pakai celana. Bahkan kalau ada makhluk berkerudung masuk Pesantren. Tanpa dikomando akan terdengar suara; Suit…Suiiit… Paket… Pakeeeet… Suara itu saling bersautan dengan sangat nyaring. Waktu itu sempat aku berfikir, “Kenapa kok tidak menerima Santri Putri ya?. Terutama Madrasah Tsanawiyah dan Aliyahnya yang menurutku, kecuali telah tersohor, juga mempunyai SDM yang lebih dari cukup. Pengasuhnya pun ‘alim-‘allamah. Ustadz dan Gurunya sama Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Tawa itu Luka dan Betapa Khilafnya Kita

Oleh : Afrizal Qosim “Jo kakean ngguyu! ndak apalanmu ilang! Dasar santri jaman now!”, gertak Lek Jo– senior pondok yang berusaha menuturi sekumpulan santri yang bercanda, tertawa terpingkal-pingkal hingga seantero komplek terdengar. Kebribiken. Sebelumnya Lek Jo lagi serius nderes di aula, menyiapkan setorannya tuk nanti malam, sampai bangkit lantas mencari dan mendekati sumber kegaduhan. Lek Jo yang masyhur suka melabrak santri baru/“tjah nyar”, mengakali dengan memplokoto menyuruh ini dan itu, mendidik dengan mem-bully prasangka yang bermakna ganda, berujung pada status “seng dituakno” oleh santri sepondok kepadanya. Lek Jo berkecak pinggang selagi menuturi mereka. Sedang Karim, Jarwo, Pantoso dan Fredi kaguk, Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Refleksi Kemerdekaan; “Merah Putih Darah Santri”

“Indonesia tidak hanya dibangun dengan senjata, darah dan air mata, tapi juga berdiri karena keikhlasan dan perjuangan para santri yang berdarah merah putih” Oleh : Irfan Asyhari Jiwa Semangat NKRI Santri yang masih menganga dalam api pesantren, semangatnya yang tiada henti mengkaji segala ilmu tuk bekal ukhrowi, meskipun terkadang realitas tak seakrab dengan hati, namun berkat cinta seorang santri, NKRI selalu dihati. Public Figur Pesantren adalah Kiai, dimana ketika kiai memberikan Wejangan, maka petuah tersebut yang harus dilaksanakan oleh santri. Kiai merupakan figur yang berwibawa dan berkharismatik karena ilmu yang dimilikinya. Para santripun “manut, tunduk dan patuh dengan (ngendikanipun) wejangannya Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Sekumpulan Sajak Kemenyek Fatma

Cacing dan Semut Musuh Terhebat Ku    Tak dapat ku cincang Cacing, Semut dan teman-temanya Meski aku tuan rumah Yang kaya harta dan segalanya!   Kaleng    Joget-joget molek Tangan melambai Menjinjing rok mini Gemolet suara Gincu tebal menghiasi bibir Kecup, kesana kemari Demi dunia Kemerlap kota Nyenyet Senyum menusuk Bahkan! nyenyet, membunuh nyenyet, mengepal suara nyenyet, membungkam mata Hingga! Bisik menghantui telinga Jenuh Jenuh Mata mendengar Bisik Telinga Kepada diri Kecewa terbelenggu Mencekik leher Sampai empunya Petik kembang Mata sembab Sembab mata Tanpa kira-kira Petik kembang Mencomot senyum girang Kini tumbang Berlari mencari cabang Dan, harus tenang   Do’a Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Susu Jahe Angkringan Krapyak

Oleh : Khalimatu Nisa*         “Malam ini sebenarnya kondisiku sedang tak begitu baik, sedikit migrain. Belakangan, aku kerap dihiraukan dengan segala detil yang kujumpai di Krapyak. Beberapa di antaranya menggiring ingatanku pada keping kenangan di tempat ini. Tempat yang sudah kuanggap sebagai satu-satunya rumah selama enam tahun berada di kota ini.    Sore kemarin lusa, sebagai sebuah ihtiar romantis, aku menyengajakan diri meluangkan waktu untuk sekadar berjalan-jalan menyisir jalan pedukuhan Krapyak bersama seorang teman sekamar. Kau tahu kan, bagaimana suasana Jalan K.H. Ali Maksum itu pada waktu petang ketika ratusan santri tumpah ruah di kedai-kedai makanan untuk sekadar mengantri lauk-pauk yang Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Fatwa Rindu Gus Candra Malik  

“Sastra menjadi pilihan utama, karena  memudahkan kita untuk berkomunikasi. Termaktublah dalam salah satu referensi Agama Islam yang menganjurkan supaya berkomunikasi dengan bahasa kaumnya. Bahasa kaumnya dalam lingkup luas adalah bahasa Ibu”. “Kalau kita mau menyadari bahwa menulis itu mudah. Akan tetapi yang terasa adalah susah, maka jadilah dirimu sendiri. Jari-jariku yang sudah menemaniku selama ini, yang aku yakini adalah bahwa apa yang sudah Allah beri dan buahnya adalah memberikan manfaat kepada liyan”. “Jangan menunda pekerjaan untuk melakukan sesuatu. Setelah itu ketika sudah selesai dalam satu bidang pekerjaan, lalu  fokuslah di pekerjaan  yang lain. Jujur, yakni jujur dalam keadaan apapun. Satu Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Burung Sang Fotografer

ilustration (mikul) Burung-burung sangat riang pada hari ini. Mereka bersiul  berirama senada dengan variasi yang berbeda. Mendayu-dayu terbawa hempasan angin yang datang  dari pohon ke pohon. Tubuhnya mengikuti getaran nada yang muncul dari paruh kecil dengan suara melengking seperti peluit juru parkir . burung yang ku maksud bukan burung yang kau pikirkan. Meraka berpakaian kain seperti mahluk yang punya akal. Paruhnya pun berwarna-warni karena lipstik yang mereka pakai. Ada yang hijau, violet, merah, dan juga ping. Paras mukanya  ditaburi bedak yang harganya puluhan ribu. Mereka berlomba-lomba menghias diri karena sekarang bukan hari biasa. Mereka senang,  di tempatnya sudah ada jasa Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Enam Tahun Bersama Minhajut Tholibin

Inilah momen yang dinanti-nanti oleh semua santri Ma’had ‘Aly setelah sekian lama hampir 6 (enam) tahun mengkaji kitab minhajut tholibin. Mungkin oleh sebagian orang menganggap waktu 6 tahun itu adalah waktu yang lama, tidak efektif, menjenuhkan dan lain sebagainya. Tapi bagi santri yang mengalami tersebut, sama sekali tidak ada keluhan seperti itu, dengan penuh semangat, ulet, serius, tertawa, guyon, gojlokan, kadang juga ada perseturuan, dan suasana lainnya dalam mengkaji ini, sehingga sampai pada mengkhatamakaan kitab tersebut. Banyak orang menyebut kitab minhajut tholibin adalah kitab jimat, belum dianggap ampuh kalau belum pernah mengkaji kitab tersebut. Karena kitab minhaj adalah karanganya Imam Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

“TIGA KALI”

Oleh : Muhammad Najib Murobbi* “Kalaamun qadimunlaa yumalluu samaa’uhu …” lantunan do’a di malam hari dengan suara merdu serta berjama’ah terdengar indah menembus sampai nadi dan hati.Mengalir dalam nadi, seperti membersihkan tiap darah kotor yang mengalir dalam tubuh manusia. Menembus dalam hati, seperti angin yang menembus sela-sela ventilasi di antara satir[1]santri putra dan putri yang saling menunggu surat balasannya. Para santri terlihat menunduk, serta ada beberapa yang mengantuk.Menunduk seraya tegang menunggu panggilan untuk imtihan[2]Al-Qur’an dengan meneruskan ayat-ayat yang dibaca oleh Ustadz Masnun.Mengantuk dengan peci hitamnya yang berpindah miring arah selatan-utara sambil menunggu kapan acara imtihan cepat selesai. Endin, santri putra dengan Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Kandang Menjangan

Oleh: lukim* Suara burung bercicit syahdu di atas pohon asem dekat bangunan tua dengan corak arsitek zaman penjajahan. Suara itu terus menghiasi langit kuning semu merah tanda akan datangnya malam. Aku mengikuti suara itu dengan siulan bibir sambil melihat ke arah bangunannya. Bangunan kusam dengan warna  putih yang pudar oleh lumut dan bentuknya menyerupai ka’bah dinamakan dengan Kandang Menjangan. Disetiap sisinya terdapat pintu dan dua jendela disamping kanan dan kirinya yang terbuat dari besi bak  jeruji penjara. kandang menjangan krapyak (foto by panorama jogja) Terkadang aku berpikir, pada zaman dulu bangunan itu dipergunakan untuk berburu oleh keluarga kerajaan hadiningrat yogyakarta, toh Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Santri Zaman Now

oleh : Rr. Aninda Wibowo* Sekarang kalau dipikir-pikir orang lebih senang yang langsung jadi. Kalau di amati orang lebih gemar gak capek-capek lalu cling. Semuanya sudah di depan mata. Sekarang saja, sebagian santri lebih senang sibuk dengan hapenya daripada nderes. Suka lupa saja dengan visi misinya mondok. Katanya bentar, kalau ada waktu luang. Ngeles sekali, istilah kalau ada waktu luang kalah dengan lombanya waktu. Bukankah baiknya meluangkan waktu? Bukan mencari waktu luang?! Boro-boro nderes. Sebagian jamaah subuh saja tak menyat. Jangankan subuh, jamaah asar yang ganjarannya tiada tara saja masih kalah dengan drama laptop yang bikin baper. Sekarang kalau dipikir-pikir orang Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Aku, Malam Tahun Baru di Komplek L

Dalam Bingkai Cerita Maulid Oleh : Lukim* Orang-orang beramai-ramai hanya ingin merayakan tahun baru 2017, Mereka antusias dengan senyuman yang sangat lebar,raut wajah bahagia seraya bergandengan tangan dengan teman . Mereka bersorak-sorak sambil memegang kembang api yang dibawa. Yogyakarta, sabtu (31/12) Pondok Pesantren Al-Munawwir Komplek L menyambut malam tahun baru dengan diadakannya acaraPeringatan Maulid Nabi MuhammadSAW. Aku hanya duduk dengan kaki melipat diatas sejadah merah bergambarkan mesjid dengan bibir terkatup-katup lirih bersolawat kepada Nabi Muhammad SAW. tahun ini adalah tahun istimewa,  jarang terjadi ketika dua kalender masehi dan hijriah memiliki bulan yang istimewa secara bersamaan. Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Baca Selanjutnya . . .

Bagikan