Mbah Warson, Wajah Keteduhan hingga Keteladan

Oleh: Hayatun Amanah Beberapa hari sebelum menulis kisah ini, saya dapat pesan lewat Whatsapp dari salah satu warga Halqimuna panitia untuk membuat tulisan bebas tentang Komplek Q. Tentu saja dengan seribu satu cerita indah yang menyertainya. Masih kata sang pengirim pesan, hal ini dalam rangka memeriahkan harlah Komplek Q. Dengan modal nekat karena tidak punya pengalaman menulis sedikitpun, saya mengiyakan. Tentu saja dengan diiringi rasa tidak percaya diri. Memulai corat-coret tentang Komplek Q, segera saja menyeruak beribu timbunan kenangan Komplek Q di benak saya. Tentang sosok Bapak, kiai idola kami para santrinya, Ibu Nyai yang super cantik dengan ke-istiqomah-an beliau, Baca Selanjutnya . . .

Bahasa Bu Nyai Sukis

Ibu Kiai Zainal namanya Bu Nyai Sukis (istri Mbah Kiai Munawwir). Bu Sukis satu rumah dengan Mbah KH. Ali Maksum (menantu) dan anak-anak beliau, yakni Gus Bik (KH. Atabik Ali), Mbak Ifah, Mbak Genuk, Gus Jis (KH. Jirjis Ali). Gus Kelik (almarhum) dan Mbak Ida belum lahir waktu itu. Bu Nyai Sukis ‘kan juga sudah sepuh, selain itu dahulu di zaman Mbah Munawwir masih sugeng santri juga masih terbilang sedikit. Bahasa yang dipakai sehari-hari masih bahasa Jawa, sebab santri-santri kebanyakan dari Jawa Tengah dan sedikit dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Sangat jauh berbeda ketika zaman Mbah Ali memegang kendali. Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Jalalain : Sikap Hati-Hati Mbah Ali

Sumber Foto: basman.mas.ru

Oleh: Dr. KH. Hilmy Muhammad, M.A #NgajiTafsir Surat an-Nisa` (4) ayat 29: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…” Antara sikap kehati-hatian Allahuyarham Simbah KH. Ali Maksum, beliau menolak pemberian hadiah uang dari Panglima ABRI; Jenderal LB. Moerdani. baca juga : Ngaji Jalalain : Upaya Mengenali Dosa beserta Dampak-Dampaknya” Kisahnya, tidak lama sesudah Peristiwa Tanjung Priok tahun 1984 yang menewaskan puluhan orang, Jenderal Moerdani keliling Indonesia menemui tokoh ulama guna meredam kemarahan kaum muslimin. Di banyak tempat, momen Moerdani salaman sambil berpelukan dan cipika-cipiki dengan kiai-kiai, memperoleh liputan yang luas oleh media massa. Baca Selanjutnya . . .

Kunci Menjadi Muslim yang Berintegritas

Oleh :Dr. KH. Hilmy Muhammad Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh Jamaah Jumat rahimakumullah Mari kita haturkan rasa syukur sebesar-besarnya kepada Allah swt. yang telah memberi nikmat dan anugerah yang tak terhingga banyaknya. Mari ungkapan itu kita kuatkan melalui upaya kita dengan melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangannya. Kaum muslimin rahimakumullah Seperti yang sebelumnya telah kita sampaikan tentang kejujuran kali ini kami akan melanjutkan kelanjutan dari sifat tersebut yakni integritas. Alkisah, di negara Inggris beberapa waktu yang lalu, ada seorang sopir truk dipecat gara-gara ketahuan minum “Pepsi” saat bekerja. Padahal dia bekerja di perusahaan Coca-Cola. Kasus tersebut menimbulkan pro-kontra. Tapi sungguh, Baca Selanjutnya . . .

Balada Ayam Bakar Wong Bantul

Oleh: KH Hilmy Muhammad [Kisah nyata ini diceritakan kepada saya langsung oleh salah seorang pelakunya. Nama-nama yang terlibat terpaksa disamarkan, karena mereka semua sekarang sudah menjadi kiai-kiai muda, yang juga pemangku pesantren] Sudah merupakan kebiasaan KH. Mabarrun, ketika beliau memiliki jam mengajar di Pondok Krapyak, beliau akan menyempatkan sowan kepada guru beliau KH. Ali Maksum rahimahullah. Ketika sowan, KH. Mabarrun seringkali membawa bingkisan kepada gurunya itu. Suatu pagi KH. Mabarrun sowan dan memberi seekor ayam kepada Kiai Ali Maksum. Selain dikenal sebagai kiai dan da’i masyhur di Bantul, KH. Mabarrun juga seorang peternak ayam. baca juga : Dari Lasem ke Baca Selanjutnya . . .

Meneladani Sosok Allahu Yarham K.H. Ali Maksum

Banyak sifat-sifat kepribadian Kiai Ali yang dapat dijadikan sebagai suri teladan terutama bagi para santri. Sekaligus mempengaruhi tipologi kepemimpinannya di PP Al-Munawwir, diantaranya adalah istiqomah mengajarkan kitab kuning. Sekalipun kesibukan beliau bertumpuk-tumpuk, seperti sebagai seorang muballigh, dosen di IAIN dan pengurus NU (Rois ‘Am) yang sering keluar kota, beliau jarang sekali meninggalkan pengajian dan sorogan yang menjadi rutinitasnya sehari-hari. Kecuali dalam kondisi yang sangat mendesak, terutama di akhir hayatnya yang sering sakit-sakitan. Kiai Ali berpola hidup sederhana, zuhud, tidak terkesan hidup mewah, dan tampil apa adanya. Hal ini ditunjukkan oleh kondisi pakaiannya, tempat tinggal, kendaraan dan makanannya yang sangat sederhana, Baca Selanjutnya . . .

Sisi Romantisme K.H. Ali Maksum Allahu Yarham

mbah ali maksum

Oleh : Arinal Husna Surat Kiai Ali Maksum untuk Ayahanda sewaktu sekolah di Baghdad. Krapyak, 14-3-83 ولدي المطيع إحسان الدين حفظه الله السلام عليكم ورحمةالله وبركاته 1. Krapyak, Wonolelo, Alhamdulillah sehat semua. Adikmu Syaibani, alhamdulillah bisa menjadi gantimu, dekat sekali denganku. Taat, sorogan dan ngaji ba’da maghribnya rajin. Mung wae Siti yang waktu kamu berangkat nangis, ngguguk sampe sekarang. Tansah melamunkan dirimu, merindukanmu terus menerus. 2. Pondok Krapyak sekarang semakin maju. Pengajian-pengajian tambah gayeng ada yg ngajar di luar kelas, di kamar, di aula, di ruang E F, di perpustakaan. Alhamdulillah aku seneng banget. Ba’da ashar dipakai untuk kursus Bahasa Baca Selanjutnya . . .

Gus Kelik, Gus Dur, dan Ponidi

Gus Kelik : “Pon..” Pon : “Dalem Gus Kelik” Gus Kelik : “Ayo melu aku neng Jakarta,aku pengen ketemu Gus Dur,numpak kereta yo..” (Ayo ikut aku ke Jakarta, aku pengin ketemu Gus Dur, naik kereta ya) Pon : “Siap Gus” Walhasil mereka sampai di Jakarta (Gedung PBNU),tapi ternyata sudah penuh orang antri yang pengen bertemu dengan Gus Dur. Gus Kelik : “Sambil mengeluh, “Pon sana bilang sama ajudannya nek aku (kelik) teko.” (Pon, sana bilang sama ajudan Gus Dur, kalau aku (Gus Kelik) hadir). Pon : “Siap Gus” baca juga : Mbah Ali, Pesantren, dan Sepakbola Akhirnya Ponidi bilang kepada Baca Selanjutnya . . .

Dari Lasem ke Krapyak : Membaca Riwayat Transisi Mbah Ali Maksum

mbah ali maksum

Jum’at, 06 Juli 1942 suasana Pesantren Krapyak terasa meresahkan. Sehabis jama’ah salat Jum’at, Ibu Ny. Jamalah binti KH. M. Munawwir, mendapuk dirinya untuk senantiasa setia menemani ayahanda hingga ajal merenggut nyawanya. Beliau, KH. M. Munawwir menghembuskan nafas terakhirnya setelah menderita sakit 16 hari lamanya. Selama kurang lebih 33 tahun beliau mengasuh Pesantren Al Munawwir Krapyak, melahirkan rona kultur kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat daerah Krapyak. Sebab di setiap harinya, kumandang lantunan Alquran menjadi faktor progresif perubahan sosial masyarakat di daerah utara Alas Mentaok tersebut. Jasa-jasa beliau amat sangat dikenang, baik bagi keluarga, santri, masyarakat, dan teman seperjuangan beliau. Wujud Baca Selanjutnya . . .

Mbah Ali, Pohon Kristen dan Anomali Logika Beragama

Pernah suatu ketika, KH Ali Maksum jalan-jalan di sekitar pesantren. Beliau sering melakukan kegiatan tersebut, berniat untuk memantau kondisi di sekitar lingkungan pesantren. Entah itu kondisi santrinya, pun masyarakat di sekitarnya. Senyum dan sapa adalah ciri khas Mbah Ali ketika berpapasam dan bertemu dengan orang lain. Pemandangan santri berbaris berderet panjang untuk bersalaman juga hal lazim bagi Mbah Ali. Sejauh beliau berjalan, nampak kondisinya sesuai dengan apa yang selalu beliau harapkan: “baik-baik saja”. Santri berkegiatan seperti biasa, ada yang mengaji Qur’an, belajar, mencuci dan tidak sedikit yang sedang ngopi berdiskusi. Ya begitulah, kultur pesantren yang dibangun oleh Mbah Ali adalah Baca Selanjutnya . . .

Memperingati Kelahiran Sang Cahaya diatas Cahaya

Oleh : KH. Fairuz Afiq Dalhar* Pada 12 Rabiul Awal ini kita merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kenapa kita harus memperingatinya? Lalu siapakah Nabi Muhammad itu? Apa kehebatan daripadanya sehingga perlu diperingati tidak hanya pada hari wafat namun juga kelahirannya. Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa namun beliau dalam bentuk fisik, bentuk tubuhnya itu paling sempurna. Akhlaknya paling sempurna. Tubuhnya paling bagus, dan akhlaknya paling bagus. Sehingga ia adalah makhluk paling sempurna di alam jagat raya ini. Selain itu, sosok Kanjeng Nabi jika berdiri dengan orang yang lebih tinggi beliau tidak merasa lebih tinggi. Jika berdiri dengan orang yang lebih Baca Selanjutnya . . .

Perintah Hidup Berhias Akhlaqul Karimah

Oleh: KH. Muhtarom Busyro, M.Pd Assalamu’alaikum Wr. Wb. Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah.. Marilah kita meningkatkan iman kita kepada Allah Swt dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Agar kita mendapat keberuntungan di dunia dan di akhirat kelak. Agama Islam memerintahkan supaya manusia memiliki akhlak yang mulia serta adab yang sempurna, yang manfaatnya akan kembali kepada dirinya dan semua orang yang berada di sekitarnya. Budi pekerti, sopan santun dan berakhlaqul karimah ini memiliki manfaat yang luar biasa. Ada manfaat yang kembali kepada diri sendiri, seperti jujur, tidak berbohong, tidak melakukan maksiat dan lain sebagainya. Ada pula yang mencurahkan buah manfaat kepada orang Baca Selanjutnya . . .

Mengenal Lebih Dekat Imam Syafi’i

Oleh: Neng Fahma Nama lengkapnya Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Sa’ib bin Ubaid bin Abdul Yazid bin Hasyim bin Muthallib bin Abdul Manaf bin Qushay atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafi’i. Beliau lahir di Ghaza Palestina bulan Rajab 150 Hijriyah. Ada pula yang mengatakan beliau lahir saat Imam Hanifah meninggal dunia. Beliau lahir pada kekhalifahan Abu Ja’far Al Manshur dari Bani Abbasiyah. Pada umur 9 tahun beliau telah hafal Alqur’an, kemudian pada umur 10 tahun beliau telah memahami dan menghafal kitab Muwattho’ karya Imam Malik. Pada saat itu beliau bertekad menuntut ilmu fikih Baca Selanjutnya . . .

Cerita Tawadhu’ dan Fadhilah Ketawadhu’an itu Sendiri

Oleh : KH. Fairuzi Afiq Dalhar* Tawadhu’ adalah sifat yang sangat mulia. Namun hanya segelintir orang yang mampu memilikinya. Ketika ada orang yang sudah memiliki gelar mentereng, berilmu tinggi, maupun memiliki harta melimpah dan mendapat amanah kedudukan lebih tinggi daripada publik, sedikit dari mereka yang memiliki sifat rendah hati atau tawadhu’. Ketika orang telah merasa semuanya telah ada digenggamannya, jarang dari mereka mengamalkan filosofi padi “semakin berisi, semakin merunduk”. Padahal, tawadhu’ merupakan perintah agama. Tawadhu’ adalah sifat antara rendah diri dan sombong. Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah daripada orang lain yang memiliki derajat kemuliaan lebih tinggi daripada kita sendiri. Baca Selanjutnya . . .

Wirid Ayat Limo

Suatu ketika Beliau didampingi KH. Ahmad Djablawi bersama beberapa Kiai yang lain, termasuk almaghfurlah KH. Umar Abdul Manan (Pondok Pesantren Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo) melakukan perjalanan ke kota Surabaya dengan mengendarai mobil. Sesampainya di Popongan Klaten, Beliau bersama rombongan berhenti sebentar untuk bersilaturrahmi ke kediaman almaghfurlah KH. Muhammad Manshur (Pondok Pesantren Al Manshur Popongan, Klaten), untuk memohon doa restu agar selama perjalanan menuju kota Surabaya hingga sekembalinya Beliau beserta rombongan diberikan keselmatan dan kelancaran oleh Allah Swt. Kemudian oleh Kiai Manshur, Beliau beserta rombongan diberi sebuah ijazah (amalan atau wirid untuk keselamatan) berupa beberapa ayat dari beberapa surat dalam Al-Qur’an Baca Selanjutnya . . .