Sambut Haul Mbah Munawwir, Alumni Menggelar “Bahtsul Masa’il al-Qur’aniyyah”

durasi baca: 2 menit Krapyak- Dalam rangka memperingati haul al-maghfurlah simbah KH. M. Munawwir bin Abdullah Rosyad ke-80, keluarga besar alumni pondok pesantren Almunawwir (HIMMAH dan IKAPPAM) pada hari Jum’at, 15 Februari 2019 menyelenggarakan Bahtsul Masa’il al-Qur’aniyyah (BMQ). Acara ini bertempat di aula G pondok pesantren Al-Munawwir Yogyakarta dan dihadiri oleh sekitar 100 peserta. Dimulai sejak pukul 08.00, acara ini dipandu oleh ustadz Abdul Jalil dan ustadz As’ad Syamsul Arifin sebagai perumus. Sedangkan yang diberi amanat untuk menjadi penshahih adalah Romo KH. R. Abdul Hamid Abdul Qodir, Romo KH. Mukhtarom Ahmad, dan Dr. KH. Hilmi Muhammad. Terdapat 10 pertanyaan tentang berbagai persoalan yang berkaitan Baca Selanjutnya . . .

KH Abdul Hamid AQ : Almunawwir Pengemban Tugas Nasyrul Ilmi wad Din

durasi baca: 1 menit Krapyak – Memasuki majlis haul, acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran dan pembacaan syair almunawwiriyyah. Setelah itu sambutan-sambutan. Sambutan pertama atas nama keluarga disampaikan oleh KH Abdul Hamid AQ. Dalam sambutannya beliau menyampaikan apabila ada kekurangan bagi bapak dan ibu, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Serta kami mengucapkan terima kasih kepada segenap pihak yang terlibat menyukseskan agenda haul ini. Kebesaran Pondok Pesantren Almunawwir ini tidak bisa dilepaskan dari sosok beliau KH M Moenawwir yang telah meninggalkan kita 80 tahun yang lalu. alfadhlu lil mubtadi wa in ahsanal muqtadi keutamaan itu milik Bagaimanapun keutamaan layak disandang oleh pendahulu-pendahulu kita. Walaupun Baca Selanjutnya . . .

Sebanyak 366 Khatimat Telah Diwisuda

durasi baca: 1 menit Krapyak – Terhitung sebanyak 366 khatimat yang menaiki panggung kehormatan di Haflah Khotmil Quran dan Haul Al Maghfurlah Simbah KH M Moenawwir bin Abdullah Rosyad ke-80, Jum’at (15/02/19). Jumlah 366 khatimat itu dibagi menjadi 5 kategori, yaitu; 201 khatimat juz 30 bil hifdzi, 88 khatimat 30 juz bin nadzri, 24 khatimat tahfidz anak 5 juz bil hifdzi, 34 khatimat 15 juz bil hifdzi, dan 19 khatimat 30 juz bil hifdzi. Acara yang dihadiri oleh undangan wali santri dan para bu nyai ini dimulai selepas Magrib. Dalam sambutannya, Ibu Nyai Hj. Ummi Salamah AQ sangat berharap kepada para santri supaya meneladani Baca Selanjutnya . . .

KH Muhammad Mukti : Mbah Munawwir Selalu Menjaga Salat Jama’ah Lima Waktu

durasi baca: 1 menit Krapyak – Mbah Munawwir iku termasuk ulama yang menjaga salat lima waktu. Mbah Munawwir tidak memberi ijazah kecuali kepada santri yang menjaga jama’ah salat lima waktu. “Salat jamaah itu buat memimpin Indonesia. Jama’ah itu bisa menjadi leadership training,” tutur KH Muhammad Mukti selaku pengisi mauidhoh hasanah pada pengajian haul al Maghfurlah KH M Moenawwir bin Abdullah Rosyad ke 80. “Karena itu, ojo wani-wani ninggal salat jama’ah,” pesan kiai yang juga dosen di IAIN Purwokerto itu. Dalam kesempatan ini, Kiai Mukti menyorot kekeramatan Simbah KH M Moenawwir. Antara lain mengenai banyaknya santri Mbah Moenawwir. “Santrinya Mbah Munawwir itu tersebar di seluruh Baca Selanjutnya . . .

Gus Hilmi: Dari Kamus Al Munawwir Betapa Banyak Murid Mbah Warson

durasi baca: 3 menit Krapyak – Gus Hilmi Muhammad berkesempatan mengisi mauidhoh hasanah dalam peringatan Haul Almagfurlah K.H. A. Warson Munawwir yang Ke-6. Kepala Madrasah MA Ali Maksum tersebut menyampaikan beberapa cerita mengenai almarhum, dari cara berpakainnya, kiprah organisasi, hingga cerita perjalanan mahakarya, Kamus Al Munawwir yang mendunia. Rabu, 12 Februari 2019 sore sekitar pukul 16.00 mendung mewarnai langit Krapyak. Tepat sore itu, Komplek Q memperingati Haul ke-6 sang maestro kamus, K.H. A. Warson Munawwir. Gus Fahmi bertindak sebagai pembawa acara dan Alvin sebagai qori’. Setelah mendengar sambutan keluarga oleh K.H. Muhtarom Busyro dan pembacaan tahlil oleh K.H. R. Najib Abdul Qodir, acara dilanjutkan Baca Selanjutnya . . .

Komplek Q Peringati Haul K.H. A. Warson Munawwir yang Ke-6

durasi baca: 1 menit Rabu, 12 Februari 2019, keluarga besar PP Al Munawwir Komplek Q meperingati Haul Almagfrulah K.H. A. Warson Munawwir yang ke-6. Sekitar pukul 16.00 acara yang bertempat di halaman mushollah barat tersebut dimulai. Gus Fahmi bertindak sebagai pembawa acara. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh Alvin. Memasuki acara berikutnya yakni sambutan keluarga yang diwakili oleh K.H. Muhtarom Busro atau biasa disapa dengan Pak Ayom. Dalam sambutannya, pengasuh Komplek M tersebut menyampaikan terima kasih kepada hadirin atas kedatangannya di majelis haul sekaligus memohon maaf atas segala kekurangannya dalam acara tersebut. Beliau juga memohon doa dan keberkahan bagi santri-santri Baca Selanjutnya . . .

KH Afif Muhammad : Qasidah Burdah Ini Memiliki Kekuatan Spiritual dan Sastra yang Tinggi

durasi baca: 2 menit Salawat Burdah merupakan sholawat yang tak asing di kalangan masyarakat Islam. Menurut KH. Afif Muhammad, salawat ini adalah salawat yang dapat diterima oleh berbagai masyarakat Islam di dunia. Pasalnya kebanyakan dari mereka adalah pengamal tasawuf dan tarekat, yang mana di dalam kitab B urdah terdapat hal-hal yang berhubungan dengan amalan tersebut. Kitab Burdah merupakan karya syair yang dikarang oleh Imam Abu Abdillah Al-Bushiri pada abad ke 7 H atau kurang lebih sekitar tahun 650 M. Beliau merupakan pujangga yang standar kesastraannya bisa dikatakan melebihi standar kesusastraan sastra Arab. Pada suatu masa beliau Imam Abu Abdillah Al Bushiri mengalami kelumpuhan sehingga Baca Selanjutnya . . .

Pembacaan Qasidah Burdah Pertahankan Tradisi Haul Mbah Munawwir

durasi baca: 2 menit Krapyak – Pembacaan Qosidah Burdah turut menyemarakkan peringatan Haul Almaghfurlah Simbah KH. M. Munawwir bin Abdullah Rosyad ke-80. Acara rutin ini dilaksanakan menjelang puncak haul sebagai wujud cinta mahabbah kepada Kanjeng Rasul Muhammad SAW rangkap dengan Mbah munawwir. Bertempat di halaman pesantren, acara dihadiri oleh ratusan santri, para pengasuh serta tamu undangan. Tahun ini Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak menggelar peringatan Haul dengan berbagai rangkaian acara seperti 80 majlis muqoddaman, ro’an akbar, 120 majlis sima’an, pembacaan qasidah burdah, dan sebagai puncaknya pada Jum’at, (15/02/19) mendatang akan digelar pula haflah Khotmil Qur’an putri. Nampak di lokasi deretan tenda acara dan pangung sudah Baca Selanjutnya . . .

Kisah Juang (2) : Khotimat Juz ‘Amma Termuda

durasi baca: 3 menit Hujan tak terlalu deras membasahi bumi Krapyak pada malam Selasa, 21 Januari 2019. Akan tetapi, hal tersebut tak menghalangi para santri untuk melangkahkan kaki ke Musola Barat (musbar) di Pondok Pesantren Komplek Q. Sejak November, mereka melakukan latihan khataman. Memasuki Januari porsi latihan semakin intens, dari yang hanya tiga kali seminggu, menjadi enam kali dalam seminggu. Diantara para santri yang mengikuti khataman, tersebutlah Shofia Nayyirotul Maghfiroh merupakan salah satu khotimat yang tergabung dalam Juz 30 bil hifdzi. Santri kelahiran Ponorogo ini merupakan khotimat termuda selain santri Madrasah Tahfidz Putri Anak (MTPA) yang juga akan melaksanakan khataman pada waktu yang sama. Baca Selanjutnya . . .

Kembali Kepada Kepemimpinan Ulama

durasi baca: 4 menit Oleh : KH Ali Maksum Perkenankanlah di sini kami mengkaji sedikit tentang NU di hari-hari pertama didirikannya. Dengan harapan agar dapat kita petik intinya, lalu kita pegangi dalam menjalankan roda jam’iyah. Sebab bagaimanapun, para leluhur NU kita tetap lebih utama daripada kita. الفضل للمبتدي وإن احسن المقتدي “Keutamaan tetap di tangan perintis, kendati si penerus lebih baik adanya” Dalam Anggaran Dasar NU yang pertama, seperti tertuang “Statuten 1926”, didirikannya jam’iyah NU ini dimaksudkan untuk keteguhan bermadzhab empat dan juga untuk kegiatan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agama Islam. Lalu dalam pasal berikutnya, dikemukakan beberapa cara untuk mencapai maksud tersebut, yaitu: Baca Selanjutnya . . .

Pesantren “Character Building” Bangsa

durasi baca: 3 menit Oleh : KH Ali Maksum Pesantren kita seluruhnya didirikan, dibina dan dikembangkan dengan cara-cara yang penuh mandiri, atau istilahnya wiraswasta penuh. Sehingga segala segi kehidupan pesantren selalu berada pada kompetensi mandiri tersebut. Para santri diarahkan pada kesadaran yang tinggi tentang tangggung jawab hari depan dan nasib umat secara mandiri. Bukan menggantungkan pada semua pihak, bahkan menurut rabaan kami, jiwa mandiri ini telah menyatu dengan jiwa kesantrian. Dalam arti, siapa tidak mandiri maka kesantriannya kurang sempurna. Karena sikap mandiri yang penuh inilah, kemudian menimbulkan berbagai dampak baru. Mandiri dalam kurikulum, mandiri dalam usaha pengembangan pesantren, dan dalam berbagai hal. Dari sini Baca Selanjutnya . . .

Pesantren: Benteng Terakhir Ajaran Islam

durasi baca: 3 menit Oleh : KH Ali Maksum Kalau kita mau mempelajari sejarah dan mengenali hakekat pesantren, maka akan jelas bahwa pesantren tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Islam di Indonesia dari kemurnian ajarannya. Di pesantren, diajarkan makna Alquran kata demi kata, makna hadis kata demi kata, juga diajarkan kitab kitab tafsir karangan para sahabat dan tabiin, kitab-kitab fiqih, tauhid, usul fiqh, tauhid, hasil penulisan para ulama mujtahid yang benar-benar ahli Alquran dan Sunnah secara langsung. Pesantren juga mengenal kita-kitab karangan orang sekarang, baik yang berbahasa Arab maupun Bahasa Indonesia. Tapi hal itu sekedar dipakai perbandingan, bukan pelajaran pokok, dan justru pesantren menempuh cara Baca Selanjutnya . . .

Membentuk Intelektual Ulama

durasi baca: 2 menit Oleh : KH Ali Maksum Apabila kita berbicara masalah pendidikan di Indonesia, memang sedikit pun tidak bisa lepas dari kepesantrenan. Bukan saja karena pesantren itu adalah satu-satunya lembaga pendidikan yang tertuta di Indonesia, tetapi juga karena pesantren itu mempunyai berbagai fungsi. Dan karenanya maka sesungguhnya sistem pesantren adalah sistem yang terbaik. Pesantren mengajarkan ilmu pengetahuan, mendidik kepribadian yang luhur dan menuntut pengalaman ilmu tersebut; pesantren tetap memimbing alumninya setelah pulang, kendatipun berada di tempat yang jauh. Pesantren menjadi kekuatan spiritual, kubu pertahanan dakwah Islam. Pesantren menciptakan konsepsi, mendadar dan menguji konsepsi tersebut sekaligus memimpin operasionalnya; pesantren menanamkan jiwa yang militant Baca Selanjutnya . . .

NU, Ulama dan Umara

durasi baca: 3 menit Oleh : KH Ali Maksum Sebelumnya, marilah beristidhar atau mengingat jasa-jasa para pendahulu kita yang telah mendirikan jam’iyah NU dan mengembangkannya hingga sampai pada taraf yang diarunginya sekarang. Dengan segala ketekunan, darma bakti dan pengorbanan para perintis yang sekian lama menjadi sesepuh kita, telah memberi warna sendiri pada kehidupan NU, suatu warna yang sedikit pun tidak akan terpupus selama jam’iyah NU masih ada di muka bumi. Dan inilah Khittah 1926. Lewat wadah Jam’iyah yang beliau cintai, para perintis yang mendirikan dan memimpin NU di masa lampau itu juga memberikan darma bakti kepada perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan di saat itu Baca Selanjutnya . . .

Urgensi Sikap dalam Perjuangan

durasi baca: 3 menit Oleh : KH Ali Maksum Kekuatan pertahanan diri ulama, bukanlah barang murahan, bukan pula mudah membuatnya. Hal itu muncul sebagai buah dari sikap keimanan yang kuat, loyalitas penuh kepada Allah, dan keberanian menanggung resiko demi mempertahankan yang haq. Dalam bahasa agama kita, loyalitas penuh kepada Allah ini, disebut dengan ikhlas. Imam Ghazali menyatakan: تجرد الباعث الواحد لله تعالى “Ketunggalan motivasi diri, yaitu hanya karena Allah” Dengan keikhlasan ini, kita selalu stabil dalam membawa diri, sebab pangkal pandangannya hanyalah Allah SWT. Lebih jauh dapat dikatakan, bahwa keikhlasan adalah suatu jenjang (dimensi) di mana bertemu antara prakarsa Allah dan keluhuran budi manusia. Baca Selanjutnya . . .