Konstruksi Kepemimpinan dan Peninggalan Nabi Sulaiman AS. [BAGIAN III]

Oleh : Elma Nafi’atul Maulida* Salah satu peninggalan bersejarah Nabi Sulaiman yang masih ada sampai saat ini adalah Candi Borobudur. Menurut KH.Fahmi Basya, ahli matematika Islam, Candi Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang ada di tanah jawa. Terdapat ciri-ciri Candi Borobudur yang menjadi bukti sebagai peninggalan putra Nabi Daud tersebut. Di antara bukti kebenarannya adalah hutan atau negeri Saba’. Makna Saba’, nama Sulaiman, buah maja yang pahit. Dipindahkanya istana Ratu Saba’ ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman, bangunan yang tidak terselesaikan oleh para jin, tempat berkumpulnya Ratu Saba’, dan lain sebagainya. Rizem (2014:488). Tentu saja banyak orang yang tidak percaya bila Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Konstruksi Kepemimpinan dan Peninggalan Nabi Sulaiman AS. [BAGIAN II]

Oleh : Elma Nafi’atul Maulida* Ada hal yang menarik mengenai keberadaan Istana Nabi Sulaiman, jika dikaitkan dalam situasi terkini di dunia internasional. Orang-orang Yahudi meyakini bahwa, konon, pondasi Kuil Nabi Sulaiman ini berada di bawah bangunan Masjidil Aqsha. Mendengar kabar tersebut, beberapa penggalian terhadap masjid ini pun masih dilakukan oleh kaum Yahudi hingga saat ini. Akan tetapi, mereka tidak menemukan apa-apa. Konon kuil tersebut terletak di Bukit Zaitun. Letaknya di antara Masjid Al-Aqsha dan Dome of the Rock, yaitu masjid yang dibangun oleh Khalifah Al-Walid dari Dinasti Umayyah. Tidak hanya itu, dalam sejarah, Nabi Sulaiman juga telah dikisahkan membangun Masjid Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Konstruksi Kepemimpinan dan Peninggalan Nabi Sulaiman AS. [BAGIAN I]

Oleh: Elma Nafi’atul Maulida* Nabi Sulaiman (sekitar 975-935 M) adalah putra raja termasyhur Bani israil, yakni Daud. Sebagaimana ayahnya, ia dikenal sebagai raja yang kaya raya dan memiliki kelebihan dapat berbicara dengan seluruh binatang dan burung-burung, menaklukan angin, laut dan udara. Bahkan jin-jin pun tunduk dan patuh kepada perintahnya. Sepeninggal ayahnya, Nabi Sulaiman menggantikan posisi ayahnya sebagai seorang raja bagi Bani Israil. Nama Sulaiman disebut di dalam Al-Qur’an sebanyak 16 kali. Namanya tersebar dalam tujuh surat, yakni QS. Al Baqarah [2]: 102, QS. An Nisaa’ [4]: 163, QS. Al An’am [6]: 84, QS. Al Anbiyaa’[21]: 78-82, QS. An Naml [27]: Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Pondok Pesantren Al Munawwir Menjawab Tantangan Ekonomi

Oleh : Khansa’ Syuraidah* Dewasa ini, mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Bertumpu pada penglihatan kita atas angka peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia yang makin memprihatinkan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, jumlah pengangguran di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 10.000 orang terhitung dari Agustus 2016. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi kids zaman now. Terutama penulis sendiri dan barangkali Anda yang seorang santri. Mengutip pendapat Emha Ainun Najib (cak Nun): Kutipan tersebut penulis maknai seperti ini, memiliki mental wirausaha/wiraswasta sangat dibutuhkan guna menghadapi ketersediaan lapangan pekerjaan yang tidak seimbang dengan jumlah penduduk Indonesia. Untuk itu sebagai kids zaman now hal Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Mengenal Para Pendiri Pesantren Era Awal di Jawa

oleh : Rizal Fathurrohman* Judul : Napak Tilas Masyayikh Penulis : M. Sholahuddin Penerbit : Nous Pustaka Utama Cetakan : II, Juni 2015 Tebal : xi + 208 halaman Dalam buku ini terdapat kurang lebih lima belas biografi Pendiri Pesantren Tua di Jawa-Madura, diantaranya; Pesantren Kajen Pati, Pesantren Mlangi Sleman Yogyakarta, Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon {1705}, Pesantren Mojosari Nganjuk {1920}, Pesantren Qomarudin Gresik {1775}, Pesantren Kempek Cirebon {1901}, Pesantren Mranggen Demak {1905}, Pesantren Suryalaya Tasikmalaya {1905}, Pesantren Lirboyo Kediri {1910}, Pesantren Krapyak Yogyakarta {1910}, Pesantren Denanyar Jombang {1917}, Pesantren Ploso Kediri {1924}, Pesantren Gontor Ponorogo {1926}, Pesantren Cipasung Tasikmalaya {1932}, Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Pesantren Al Munawwir : Peran Konkrit Demi Masyarakat Bangkit

Oleh: Nur Wakhidah* al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah “Menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik” Kaidah inilah yang tampak telah diterapkan di Pondok Pesantren Al Munawwir–dan pesantren lainnya– dalam ikhtiar untuk turut berpartisipasi sekaligus berkontribusi terhadap dialektika perkembangan zaman (modernitas). Pemilihan kaidah ini sebagai dasar dalam menghadapi perkembangan zaman, adalah pilihan yang baik, bijaksana dan tentunya tepat. Seperti lazim kita ketahui, pesantren dalam merespon fenomena perkembangan zaman, paling tidak ada tiga bentuk respon yang ajeg kita temui. Pertama, respon lembaga keislaman dengan menolak secara penuh segala bentuk perkembangan zaman. Tak dapat dipungkiri, Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Dinamika Pesantren Krapyak : “Mulai dari Pendidikan Al-Qur’an hingga Membangun Karakter Qur’ani”

Oleh : Nur Lailatil Mubarokah* Fakta sejarah mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan Islam merupakan faktor yang cukup berpengaruh dalam dinamika perkembangan Islam di Nusantara. Salah satu lembaga pendidikan Islam tradisional yang sampai saat ini masih memberikan kontribusi positif bagi dinamika Islam di Nusantara adalah pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang pertama kali berdiri di Indonesia. Sampai di era modern, pesantren tetap mampu menunjukkan vitalitasnya sebagai kekuatan sosial, kultural dan keagamaan yang, turut membentuk bangunan dari kebudayaan Indonesia modern. Pesantren memberikan peluang dalam menghidupkan syiar Islam kepada masyarakat. Karena tidak jarang di lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti universitas, diadakan kajian-kajian Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

5 Prinsip Supaya Hidup Tanpa Musuh

Kalau ada orang tidak merasa butuh orang lain, apakah besok kalau mati mau mandi sendiri? Bungkus kain kafan sendiri? Nyolati sendiri terus ngesot sendiri ke maqbaroh? Oleh : KH. Hendri Sutopo Saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, aku pernah mengaji kitab Akhlak At Takhliyah wa at-Targhib fi at-Tarbiyah wa at-Tahdib karya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki. Di dalamnya ada Syair yang, alhamdulillah sampai sekarang masih kuhapal. Syair yang saya maksud itu berbunyi demikian “Wamaa bikatsiirin alfu khillin wa shookhibin & Wainna ‘aduwwan waakhidan lakatsiiru“. “Tidaklah terasa banyak orang punya seribu teman, tetapi yang akan terasa banyak kalau punya musuh satu” Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Krapyak dan Sejuta Pesonanya

… menjadi santri di krapyak adalah pengalaman yang ungkapannya tak terhingga. Waktu demi waktu yang saya tapaki suatu saat akan terhimpun menjadi manuskrip rindu yang mendalam… Oleh: Arina Manasikana* Membicarakan krapyak dan sejuta pesonanya adalah satu hal yang baru mewakili satu pandangan seseorang saja. Karena bila orang-orang yang bergeliat di sana ditanya dan memberikan pendapat mereka, maka pesona “Krapyak” bukan lagi sejuta, melainkan berjuta-juta pesona atau mungkin pesona yang tak ternilai di benak dan di hati kita. Bagi saya, membicarakan “Krapyak” bukan sekedar membicarakan tempat tinggal dan huru hara manusia menjejaki segala peraduan nasibnya, bukan pula sekedar berkunjung melihat ikon Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Santri Millenial: Oase di tengah “Sahara” Media Sosial

Selain sebagai penghibur, meme santri millenial juga hadir sebagai oase di tengah gersangnya dominasi pemahaman keagamaan di medsos. Oleh : Jamaluddin Jauhari* Santri dan Humor : dua sisi mata uang Ketika kata santri disebut, maka yang keluar dalam pikiran kita adalah, manutan/nderek, tawadu’ , ngaji, serba bisa, cangkruan, baca kitab dan guyonan. Dari sekian banyak kata yang muncul di atas, mungkin dua kata terakhir yang kemudian sangat lekat dengan istilah santri, yaitu baca kitab dan guyonan, karena keduanya selalu menyertai kehidupan santri dalam rutinitasnya sehari-hari di pesantren. Di mana pun santri berada, mereka sebisa mungkin nyangkruk dengan guyonan yang memantik Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

AKU BANGGA MENJADI BAGIAN DARI NEGERI

…kunci utama pertahanan negara adalah adanya moralitas yang sangat tinggi di kalangan generasi mudanya. Oleh : Neng Fahma Pengalaman saya kali ini adalah tentang hari santri sesuai janji Bapak Presiden ketika kampanye di salah satu Ponpes di daerah Malang. Salah satu pencapaian beliau selama masa kepemimpinan ini adalah ditetapkannya hari santri sebagai hari nasional tanpa bermaksud untuk memecah belah mana yang santri dan mana yang bukan santri. Saya sebagai santri merasa sangat tersanjung dengan ketetapan Bapak Presiden ini. Ternyata saya dan seluruh santri di negeri ini di akui. Bukan tanpa sebab Bapak Presiden menetapkan hari santri ini sebagai hari nasional. Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Ihwal Kebahasaan Tindak Tutur “Ngaji, Ngaji, Ngaji Sudah Siang”

Oleh: Afqo Oktober di Indonesia, diperingati sebagai “Bulan Bahasa”. Entah, Anda ikut merayakannya atau tidak, saya kurang tau. Tapi, dalam tulisan ini, saya akan merayakannya dengan mengulas hal ihwal bahasa serta kebahasaan yang ada di pesantren. Kultur pesantren yang kaya, kultur pesantren yang unik sekaligus menarik. Kebahasaan pesantren yang saya maksud itu adalah “Ngaji, ngaji, ngaji sudah siang”. Sebuah dawuh dari Mbah Kiai Najib Abdul Qodir Munawwir, yang ajeg dan nggak pernah lupa beliau sampaikan kepada para santri setiap ba’da talaqqi (menelateni qiro’ah kiai). Kehilangan terbesar adalah luputnya kepercayaan. Akan tetapi ada kehilangan yang lebih agung, yaitu amaliah kehidupan yang Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Suka – Duka menjadi Muadzin Krapyak dan Pendengaran adalah Kunci

  Kita susah menyadari bahwa telinga kita adalah organ pertama yang sanggup kita gunakan sejak pertama kali dilahirkan. Pendengaran akan merespon penglihatan serta mulut untuk bekerja. Akan sia-sia bila kita mencoba untuk menahan telinga kita untuk tidak mendengar, barang sekali pun. Meskipun kita sedang terkonsen pada satu hal, pasti hal lain disekitar kita akan terdengar pula.  Oleh : AFQO* Mencoba merasa dekat dengan Tuhan adalah impian semua orang beriman. Jangankan hanya ingin dekat, memanggil Tuhan dalam adzan pun, terkadang diidam-idamkan. Bahkan suatu persaingan. Tapi ini bukan soal bersenandung enak di bawah lindungan payung Adzan. Sama sekali bukan. Ini persoalan penghargaan Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Teori Stephen R. Covey; “Menjadi Manusia Efektif dan Produktif”

Menuliskan tujuan dalam hidup sudah banyak dipahami sebagai salah satu upaya penting dan serius dalam menggapai impian. Namun sebenarnya semua pencapaian manusia memiliki dua fase penciptaan, yaitu ketika diciptakan di dalam mental serta ketika diciptakan secara nyata. Seperti sebuah blueprint, bentuk nyata dari sebuah pencapaian akan mengikuti bagaimana ia diciptakan dalam mental. Oleh: Sa’adah* Beberapa hari lalu, saya mengikuti pelatihan kader muda ekonomi yang bertema “Santri Mandiri Prestasi Negeri” yang diselenggarakan oleh Pengurus Departemen Pemberdayaan Ekonomi Pondok Pesantren Al-Munawwir. Dalam pelatihan ini, materi disampaikan oleh saudara Ahsan yang mencoba membahas pembahasan “The 7 Habits of Highly Effective People” menurut Stephen Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Ketika Santri Menghapus Luka Negeri

Foto Dokumentasi Media Al Munawwir … dalam bahasa beliau tersebut lima elemen, yakni sabar, menerima apa adanya, murah hati, tekun dan giat. Disinilah letak Revolusi Mental Santri. Oleh: Afqo Moralitas dibenturkan dengan zaman yang kian kaku (tidak manusiawi) sebab globalisasi dan modernisasi. Kelelahan kita dalam integrasi solidaritas umat nampak nyata terlihat. Menyerah sebelum bertanding, mental moralitas kita berhenti di sana, atau dengan kata lain masyarakat Indonesia dewasa ini menjadi masyarakat yang oleh Amin Abdullah (2016) disebut sebagai Masyarakat Krisis”, dalam bentuk apapun dan kondisi apapun. Mengingat urgensi moralitas, pesantren sebagai institusi pendidikan, mengkader santri untuk bersikap terbuka, luwes, dan berpandangan Baca Selanjutnya . . .

Bagikan