Ngaji Ulumul Quran (11): Perbedaan Ulama dalam Memberi Tanda Titik Pada Huruf

Oleh: Abdul Jalil Muhammad,M.A #Ilmu_Rasm_dan_Naqth_Mushaf (11) Perlu diingat bahwa tujuan ada titik I’rab yang nanti bentuknya menjadi harakat yang kita kenal maupun titik pembeda huruf yang tulisannya sama adalah agar membantu seorang pembaca Alquran tidak salah dalam bacaannya. Dalam ilmu ini terdapat beberapa mazhab, pendapat, dan riwayat. Ini yang kurang disadari oleh sebagian orang, sehingga menyalahkan yang lain karena tidak sesuai dengan model mushaf yang dia gunakan. Contoh huruf Fa’ dan Qaf, dalam riwayat al-Khalil bin Ahmad dijelaskan: huruf Fa’ jika disambung dalam penulisan maka diberi satu titik di atas, dan jika dipisahkan (tidak disambung dalam penulisan dengan huruf lain) Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Quran (10): Urutan Huruf Hija’iyyah

Oleh: Ust. Abdul Jalil Muhammad,M.A #Ilmu_Rasm_dan_Naqth_Mushaf (10) Bagaimana urutan huruf bahasa Arab jika tidak ada titik? Salah satu pembahasan dalam kitab al-Muhkam karya al-Dani adalah urutan huruf hija’iyyah dalam penulisan. Jika kita membaca beberapa literatur klasik akan ditemukan bahwa urutan huruf dalam pembahasan ulama bisa dibagi tiga macam: 1) Berdasarkan makhraj (tempat keluar) huruf 2) Berdasarkan bentuk tulisan 3) Abajada Hawazun. Di dalam kitab al-‘Ain, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H) mengurutkan huruf berdasarkan makhraj, hanya saja beliau memulai dengan huruf ‘Ain. Berbeda dengan murid beliau yaitu Sibaweh (w. 180 W.) dalam kitabnya yang berjudul al-Kitab yang mengurutkan huruf Baca Selanjutnya . . .

Kisah Nabi dan Anak Kecil di Hari Raya Idul Fitri

Suatu ketika di hari raya Ied, Nabi Muhammad keluar rumah untuk melaksanakan Sholat Ied. Di tengah perjalanan, beliau melihat anak-anak kecil sedang bermain bersama, namun beliau juga melihat ada seorang anak yang berdiri sambil menangis. Nabi menghampirinya, lalu bertanya, “Hai Nak, kenapa kamu menangis?” Anak tersebut pada awalnya tidak mengetahui bahwa lelaki yang bertanya adalah Nabi Muhammad SAW. Anak tersebut menjawab, “Biarkanlah saja aku wahai laki-laki! Ayahku telah tiada dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah SAW, dan ibukku telah menikah dengan lelaki lain. Dia (lelaki) merebut rumah dan hartaku, sehingga aku menjadi seperti yang engkau lihat saat ini, aku tak memakai Baca Selanjutnya . . .

Inilah Doa-Doa Yang Dibaca Rasulullah Saw

Pada dasarnya, isi dari kitab Al-Muqtatofat Li-Ahlil Bidayat menjelasakan tentang ringkasan bagi pembelajaran awal seorang Muslim. Bab IV yang berisi tentang macam-macam doa. Khusus pembahasan malam ini, materi yang akan dibahas yaitu macam-macam doa dalam Al-Ma’tsurat. Doa-doa ini merupakan doa sehari-hari yang dapat diamalkan oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Berikut ringkasan materi yang dirangkum pada pengajian malam ini: 41. Dari Thariq bin Asy-yam ra, berkata: “Seseorang itu apabila masuk Islam, lalu Nabi s.a.w. mengajarkan shalat padanya, kemudian orang itu diperintah supaya berdoa dengan kalimat-kalimat ini – yang artinya: Ya Allah, berikanlah kepada saya pengampunan, kerahmatan, petunjuk, kesehatan dan Baca Selanjutnya . . .

Kewajiban Zakat Fitrah

Zakat fitrah hukumnya wajib bagi seorang muslim. Zakat fitrah menyucikan bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan yang salah. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Abu Dawud, زكاة الفطر طهرة للصّائم من اللّغو والرّفث”. رواه أبو داود “Zakat fitrah itu menyucikan bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan yang salah”. (HR. Abu Daud) Sesungguhnya puasa Ramadan itu bergantung pada langit dan bumi yang tidak diangkat kecuali dengan zakat fitrah. وقال وقيع شيخ الإمام الشّافعي رضي الله عنهما : زكوة الفطر لرمضان كسجدة السّهو للصّلاة، تجبر نقص الصوم كما يجبر السّجود نقص الصّلاة “Zakat fitrah pada bulan Ramadan Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (9): Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Titik Di Mushaf

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Tidak sedikit perkara yang kita anggap sebagai hal yang wajar, umum, lumrah, biasa, sejak awal seperti itu. Contoh dalam konteks Alquran, bacaan riwayat Hafsh. Pada masa kini, hampir 85% dari masyarakat Muslim dunia membaca dengan riwayat itu, padahal dahulu di Mesir, Hijaz, Syam, Irak dan yang lain bacaan Hafsh tidak menjadi bacaan mayoritas. Bahkan Tafsir Jalalain yang dibaca di pesantren tidak ditulis berdasarkan riwayat Hafsh. Begitu juga soal titik di tulisan mushaf Alquran. Mungkin sebaliknya, jika sekarang ada penerbit yang mencetak Alquran tanpa titik, ada yang komentar: (wah, ini penerbit yang mau menyesatkan Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (8): Mengenal titik pada penulisan mushaf Alquran

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Mushaf Alquran ditulis tanpa titik dan harakat, bahkan nama surat, nomor ayat, tanda waqaf/berhenti dan lainnya juga tidak ada. Kaidah-kaidah penulisan titik dan harakat dipelajari dalam ilmu Dhabth, yaitu sebuah ilmu yang membahas tentang tanda-tanda yang ditambahkan pada huruf-huruf muhsaf, juga maknanya yang dimaksud, serta cara penulisannya. Ada dua macam titik, nuqath al-I’rab dan nuqath al-I’jam. Yang pertama sebagai tanda harakat (fathah, kasrah, dhammah), dan yang kedua untuk membedakan huruf yang bentuk tulisannya mirip (ba’, ta’, tsa’). Abu al-Aswad al-Du’ali (w. 69 H) disebut sebagai pencetus penambahan titik I’rab. Suatu ketika, Abu al-Aswad Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (7): Rasam kosakata Alquran dan Makna

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Dalam pertemuan ketiga dijelaskan bahwa ulama berbeda cara dalam menjelaskan perbedaan penulisan kosakata dalam Alquran, mayoritas ulama cenderung memberi argumentasi bahasa, ada juga yang mencoba mencari hikmah yang berhubungan dengan makna dibalik fenomena ini. Dari kelompok kedua akan saya jelaskan tentang dua tokoh yang memiliki beberapa interpretasi unik tentang keistimewaan rasam Alquran, Muhammad Syamlul dan ‘Adnan al-Rifa’i. Bagi Muhammad Syamlul, sisi tulisan dan bacaan Alquran merupakan mukjizat. Setiap perbedaan dalam penulisan kosakata Alquran mengharuskan kita untuk berhenti sejenak untuk merenungi hikmah di baliknya. Banyak contoh untuk ijtihad Symalul dalam hal ini, di antaranya Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (6): Rasam Alquran dan Qira’at

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Hubungan Rasam Alquran dengan Qira’at dapat dilihat dari dua hal, Pertama, bahwa rasam mushaf utsmani menjadi salah satu syarat atau tolak ukur diterimanya suatu qira’ah. Dua syarat lainnya adalah memiliki sanad yang shahih, dan sesuai dengan kaidah-kaidah dalam bahasa Arab. Kedua, terkait pada praktik bacaan, termasuk persoalan cara waqaf/berhenti pada suatu kata. Ulama qira’at menjelaskan bahwa qira’at yang diterima harus sesuai dengan salah satu rasam mushaf utsmani. Hal ini dikarenakan mushaf-mushaf yang ditulis di masa Utsman memiliki perbedaan. Di antara contohnya adalah Qs. al-Baqarah: 116 di mushaf Syam ditulis tanpa huruf Wawu (قالوا Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (5): Penambahan Huruf Dalam Penulisan Kosakata Alquran

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Pembahasan tentang membuang huruf dari penulisan kosakata tertentu dalam Alquran tidak kami bahas secara keseluruhan di sini. Ada lima macam Hadzf al-Haraf, yaitu: membuang huruf Alif, Wawu, Ya’, Lam, dan Nun. Jika diteliti dalam bacaan Alquran, kita temukan bahwa tidak semua huruf yang tertulis dibaca. Ini karena ada beberapa huruf yang ditambahkan dalam penulisan (ziyadah al-huruf). Sebagian kasus dipelajari dalam jilid bacaan Gharib metode Qira’ati. Sedangkan Mushaf al-Quddus cetakan Kudus memberi beberapa keterangan/catatan di bagian bawah bahwa huruf ini dalam kata ini tidak dibaca. Huruf yang ditambahkan dalam hal ini adalah: Alif, Wawu, Baca Selanjutnya . . .

Kita Ganjil, Rasulullah Saw yang Menggenapi

Oleh: Isna Sholihaturrahmaniah Banyak sekali kitab yang membahas keutamaan bershalawat kepada Kanjeng Rasul Muhammad saw. Hal ini tidak lain karena Allah swt yang memerintahkan kepada seluruh umat beriman untuk menghadiahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah saw. (Q.S. Al-Ahzab ayat 56). Hadirnya Rasulullah saw merupakan bukti cinta Allah swt kepada makhluk-Nya. Rasulullah saw ada untuk dijadikan suri teladan bagi manusia jika ingin dicintai Allah swt. Rasul Muhammad saw lah manusia suci, kekasih Allah swt. Bershalawat kepada Nabi Muhammad saw bukan berarti beliau butuh doa dari umatnya. Justru shalawat lah yang menjadi perantara doa manusia dikabulkan Allah swt, seperti yang tercantum dalam Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (4): Membuang Huruf Wawu dan Ya’ dari Penulisan Kata Alquran

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Sebagaimana dijelaskan di tulisan sebelumnya, al-Dani terkadang menjelaskan tentang membuang suatu huruf dengan keterangan argumentasi tertentu, biasanya ta’lil/argumentasi nahwu, atau kadang hanya menyebut kosakata yang dibuang darinya huruf tertentu. Seperti huruf Ya’ yang dibuang karena dicukupkan dengan harakat kasrah (iktifa’ bil-kasrah). Contoh QS. Al-Baqarah: 40-41 (وإيى فارهبون) (وإيى فاتقون) yang jika YA’ tidak dibuang maka menjadi seperti ini (وإياي فارهبوني) (وإياي فاتقوني). Meski kata-kata tertentu tidak ditulis huruf YA’, akan tetapi pada beberapa qira’at akan ditetapkan (itsbat) huruf YA’, contoh pada Qs. Al-Baqarah: 186 (دعوة الداع إذا دعان) yang imam Warsy, Abu ‘Amr Baca Selanjutnya . . .

Resep Amal Sederhana tapi Berbobot, Ucapkan Hamdalah

Oleh: Isna Sholihaturrahmaniah* Kalimat hamdalah terdiri dari 8 huruf. Begitu halnya jumlah pintu surga. Allah swt menjanjikan terbukanya kedelapan pintu surga tersebut untuk orang yang mengucap hamdalah. Semudah itukah membuka pintu surga? Dilandasi keimanan, rasa syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan. Hadirnya suara hati memuji Allah serta bukti dalam bentuk perbuatan juga perlu dilakukan. Memuji Allah swt semestinya tidak hanya dilakukan ketika baru mendapat nikmat. Karena pada dasarnya segala sesuatu yang ada di alam raya ini adalah nikmat yang diberikan Allah swt untuk kita, termasuk tubuh kita dengan segala fungsi dan fasilitas untuk menunjang berfungsinya tubuh. Maka sebanyak apapun pujian Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (2): Sejarah Awal Penulisan Alquran

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Dalam catatan sejarah, Alquran sudah dijaga dalam bentuk hapalan para sahabat maupun dalam bentuk tulisan sejak masa Nabi periode Mekah. Kuttab al-Wahy (Sahabat-sahabat pencatat/penulis wahyu), seperti Zaid bin Tsabit pada periode Madinah, bertugas menulis wahyu Alquran, di samping sahabat-sahabat lain yang menjadi sekretaris Nabi untuk keperluan lain, seperti menulis surat-surat kepada raja-raja. Tidak ada riwayat-riwayat yang detail mengenai model dan cara penulisan kata-kata Alquran di lembaran-lembaran (shahifah) yang ditulis di masa Nabi, termasuk mushaf pertama yang ditulis di masa pemerintahan sahabat Abu Bakar. Sahabat Zaid bin Tsabit mempunyai posisi penting dalam konteks ini, Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (1): Ilmu Rasm dan Naqth Mushaf

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Pendahuluan Penulisan Mushaf Alquran mempunyai model yang khas dan berbeda dengan model penulisan konvensional atau disebut dengan rasam ishtilahi/imla’i. Selain kedua model itu, model penulisan ketiga adalah rasam ‘arudhi yang digunakan untuk mengetahui wazan syair dalam ilmu ‘arudh, di mana harakat tanwin fathatain terkadang ditulis dengan huruf nun, dan harakat dhammah ditulis dengan huruf wawu. Dalam perkembangannya, model penulisan mushaf Alquran dikenal dengan rasam utsmani. Karena ia merupakan model/cara penulisan dan penyalinan kata-kata dalam Alquran dengan cara yang disetujui oleh sahabat Usman pada waktu penulisan mushaf di masa pemerintahnya. Beberapa ulama berbeda sikap Baca Selanjutnya . . .