Ngaji Ulumul Qur’an (9): Perbedaan Pendapat Ulama Mengenai Titik Di Mushaf

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Tidak sedikit perkara yang kita anggap sebagai hal yang wajar, umum, lumrah, biasa, sejak awal seperti itu. Contoh dalam konteks Alquran, bacaan riwayat Hafsh. Pada masa kini, hampir 85% dari masyarakat Muslim dunia membaca dengan riwayat itu, padahal dahulu di Mesir, Hijaz, Syam, Irak dan yang lain bacaan Hafsh tidak menjadi bacaan mayoritas. Bahkan Tafsir Jalalain yang dibaca di pesantren tidak ditulis berdasarkan riwayat Hafsh. Begitu juga soal titik di tulisan mushaf Alquran. Mungkin sebaliknya, jika sekarang ada penerbit yang mencetak Alquran tanpa titik, ada yang komentar: (wah, ini penerbit yang mau menyesatkan Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (8): Mengenal titik pada penulisan mushaf Alquran

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Mushaf Alquran ditulis tanpa titik dan harakat, bahkan nama surat, nomor ayat, tanda waqaf/berhenti dan lainnya juga tidak ada. Kaidah-kaidah penulisan titik dan harakat dipelajari dalam ilmu Dhabth, yaitu sebuah ilmu yang membahas tentang tanda-tanda yang ditambahkan pada huruf-huruf muhsaf, juga maknanya yang dimaksud, serta cara penulisannya. Ada dua macam titik, nuqath al-I’rab dan nuqath al-I’jam. Yang pertama sebagai tanda harakat (fathah, kasrah, dhammah), dan yang kedua untuk membedakan huruf yang bentuk tulisannya mirip (ba’, ta’, tsa’). Abu al-Aswad al-Du’ali (w. 69 H) disebut sebagai pencetus penambahan titik I’rab. Suatu ketika, Abu al-Aswad Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (7): Rasam kosakata Alquran dan Makna

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Dalam pertemuan ketiga dijelaskan bahwa ulama berbeda cara dalam menjelaskan perbedaan penulisan kosakata dalam Alquran, mayoritas ulama cenderung memberi argumentasi bahasa, ada juga yang mencoba mencari hikmah yang berhubungan dengan makna dibalik fenomena ini. Dari kelompok kedua akan saya jelaskan tentang dua tokoh yang memiliki beberapa interpretasi unik tentang keistimewaan rasam Alquran, Muhammad Syamlul dan ‘Adnan al-Rifa’i. Bagi Muhammad Syamlul, sisi tulisan dan bacaan Alquran merupakan mukjizat. Setiap perbedaan dalam penulisan kosakata Alquran mengharuskan kita untuk berhenti sejenak untuk merenungi hikmah di baliknya. Banyak contoh untuk ijtihad Symalul dalam hal ini, di antaranya Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (6): Rasam Alquran dan Qira’at

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Hubungan Rasam Alquran dengan Qira’at dapat dilihat dari dua hal, Pertama, bahwa rasam mushaf utsmani menjadi salah satu syarat atau tolak ukur diterimanya suatu qira’ah. Dua syarat lainnya adalah memiliki sanad yang shahih, dan sesuai dengan kaidah-kaidah dalam bahasa Arab. Kedua, terkait pada praktik bacaan, termasuk persoalan cara waqaf/berhenti pada suatu kata. Ulama qira’at menjelaskan bahwa qira’at yang diterima harus sesuai dengan salah satu rasam mushaf utsmani. Hal ini dikarenakan mushaf-mushaf yang ditulis di masa Utsman memiliki perbedaan. Di antara contohnya adalah Qs. al-Baqarah: 116 di mushaf Syam ditulis tanpa huruf Wawu (قالوا Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (5): Penambahan Huruf Dalam Penulisan Kosakata Alquran

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Pembahasan tentang membuang huruf dari penulisan kosakata tertentu dalam Alquran tidak kami bahas secara keseluruhan di sini. Ada lima macam Hadzf al-Haraf, yaitu: membuang huruf Alif, Wawu, Ya’, Lam, dan Nun. Jika diteliti dalam bacaan Alquran, kita temukan bahwa tidak semua huruf yang tertulis dibaca. Ini karena ada beberapa huruf yang ditambahkan dalam penulisan (ziyadah al-huruf). Sebagian kasus dipelajari dalam jilid bacaan Gharib metode Qira’ati. Sedangkan Mushaf al-Quddus cetakan Kudus memberi beberapa keterangan/catatan di bagian bawah bahwa huruf ini dalam kata ini tidak dibaca. Huruf yang ditambahkan dalam hal ini adalah: Alif, Wawu, Baca Selanjutnya . . .

Kita Ganjil, Rasulullah Saw yang Menggenapi

Oleh: Isna Sholihaturrahmaniah Banyak sekali kitab yang membahas keutamaan bershalawat kepada Kanjeng Rasul Muhammad saw. Hal ini tidak lain karena Allah swt yang memerintahkan kepada seluruh umat beriman untuk menghadiahkan shalawat dan salam kepada Rasulullah saw. (Q.S. Al-Ahzab ayat 56). Hadirnya Rasulullah saw merupakan bukti cinta Allah swt kepada makhluk-Nya. Rasulullah saw ada untuk dijadikan suri teladan bagi manusia jika ingin dicintai Allah swt. Rasul Muhammad saw lah manusia suci, kekasih Allah swt. Bershalawat kepada Nabi Muhammad saw bukan berarti beliau butuh doa dari umatnya. Justru shalawat lah yang menjadi perantara doa manusia dikabulkan Allah swt, seperti yang tercantum dalam Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (4): Membuang Huruf Wawu dan Ya’ dari Penulisan Kata Alquran

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Sebagaimana dijelaskan di tulisan sebelumnya, al-Dani terkadang menjelaskan tentang membuang suatu huruf dengan keterangan argumentasi tertentu, biasanya ta’lil/argumentasi nahwu, atau kadang hanya menyebut kosakata yang dibuang darinya huruf tertentu. Seperti huruf Ya’ yang dibuang karena dicukupkan dengan harakat kasrah (iktifa’ bil-kasrah). Contoh QS. Al-Baqarah: 40-41 (وإيى فارهبون) (وإيى فاتقون) yang jika YA’ tidak dibuang maka menjadi seperti ini (وإياي فارهبوني) (وإياي فاتقوني). Meski kata-kata tertentu tidak ditulis huruf YA’, akan tetapi pada beberapa qira’at akan ditetapkan (itsbat) huruf YA’, contoh pada Qs. Al-Baqarah: 186 (دعوة الداع إذا دعان) yang imam Warsy, Abu ‘Amr Baca Selanjutnya . . .

Ngaji Ulumul Qur’an (3): Membuang Huruf Alif dari Penulisan Kosa Kata Alquran

Sumber Foto: cavilita.com

Oleh: Ust. H. Abdul Jalil Muhammad, M.A Fenomena perbedaan tulisan mushaf Alquran dengan tulisan bahasa Arab bukan-Quran menjadi faktor utama lahirnya ilmu rasam. Karya paling awal yang sampai ke kita tentang fenomena perbedaan rasam mushaf-mushaf adalah bab ikhtilaf mashahif ahl al-amshar dalam kitab Fadha’il al-Qur’an karya al-Qasim bin Sallam (w. 224 H). Salah satu perbedaan rasam adalah soal pembuangan huruf Alif. Ulama mencoba memberi beberapa macam alasan/penjelasan (ta’lil) atas perbedaan ini: ta’lil lughawi/nahwi, dan ta’lil bathini (terdapat hikmah/rahasia di baliknya). Perlu diketahui bahwa perbedaan penulisan ada yang muttafaq fih (tulisannya seperti itu pada semua mushaf) ada yang mukhtalaf fih (terdapat Baca Selanjutnya . . .

Hasil BMQ (10): Diundang untuk Baca Alquran, Tapi Pengin Cepat Khatam

Pertanyaan: Tradisi undangan ngaji (istilah konco-konco Alquran mendapatkan undangan membaca Alquran/semaan) di Tulungagung (mungkin daerah lainnya juga) mulai pagi sampai siang, biasanya setelah sholat dhuhur langsung pada bergegas pengen juz 30, padahal masih juz 15. Apakah harus nglempit/blandrek (istilah membaca tidak di mic) juz 16-29? Walaupun tidak ada sighot membaca 30 juz dari pengundang. Cara nglempitnya bermacam-macam, ada yang binnadhri pelan, binnadhri cepat, binnadhri cepat sekali (setengah jam mendapatkan 3 juz atau lebih), bahkan dibrekat (dibaca di rumah). Bagaimana cara menglempit/memblandrek yang dibenarkan Syara’? Jawaban: Karena tidak ada akad yang jelas, pembacaan Alquran bisa dilakukan dengan berbagai cara, asal sesuai Baca Selanjutnya . . .

Hasil BMQ (9): Membeli Alquran Dengan Jasa Paketan

Pertanyaan: Bagaimana hukumnya jual beli Alquran dengan jasa paketan? sedangkan kita tahu jasa paketan memperlakukan paketan dengan dilempar, diletakkan di bawah, dan sebagainya. Jawaban: Boleh, jika tidak ada unsur izro’ atau imtihan (meremehkan). Referensi: مسألة: وقع السؤال عن خزانتين من خشب إحداهما فوق الأخرى كما في خزائن مجاوري الجامع الأزهر وضع المصحف في السفلى فهل يجوز وضع النعال ونحوها في العليا فأجاب م ر بالجواز لأن ذلك لا يعد إخلالا بحرمة المصحف قال بل يجوز في الخزانة الواحدة أن يوضع المصحف في رفها الأسفل ونحو النعال في رف آخر فوقه سم على حج قلت وينبغي أن مثل ذلك في الجواز Baca Selanjutnya . . .

Hasil BMQ (8): Tentang Menghafal Alquran dan Letak Surah Al-Fatihah

Pertanyaan: 1. Bagaimana hukumnya orang yang menghafal Alquran tanpa melalui setoran ke guru? Tetapi sudah ngaji (khatam) binnadhor di hadapan guru. 2. Surat al-Fatikhah itu termasuk juz 1 atau tidak? Kalau misal termasuk, kenapa kok juz 1 itu الم Jawaban: 1. Untuk dapat disebut “pernah mengaji kepada seorang guru” (musyafahah/talaqqi) tidak wajib membaca bil-ghaib (dari hapalan) tapi bisa dengan bi-nazhor (mengaji dengan melihat mashaf). Akan tetapi sebagian guru menuliskan di dalam ijazah sanad (وقد قرأ عليّ غيباً) ini berarti sang guru memberi ijazah kepada yang pernah mengaji kepadanya dengan setoran bil-ghaib. Meskipun demikian, ijazah tidak menjadi syarat boleh tidaknya mengajar Baca Selanjutnya . . .

Hasil BMQ (4): Bolehkah Transaksi dalam Sima’an Alquran?

Pertanyaan: Apakah diperbolehkan transaksi dalam simaan al-Qur’an? Misal; Si Fulan mengundang seorang Hafidz al-Qur’an untuk simaan al-Qur’an di rumahnya, Si Hafidz mengiyakan undangan si fulan, asalkan dibayar sekian rupiah. Contoh transaksinya: Oke, saya mau ngaji di tempatmu wahai si fulan, asal engkau membayar saya Rp 1.000.000. Praktek simaan transaksional semacam ini apakah diperbolehkan atau tidak? Dan apakah praktek tersebut termasuk menjual ayat Allah Ta’ala untuk kepentingan dunia, mengingat sebuah ayat ولا تشتروا باياتي ثمنا قليلا? Jawaban: Transaksi yang demikian adalah boleh/halal. Referensi: (مسألة: ي) : يصح الاستئجار لكل ما لا تجب له نية عبادة كان، كأذان وتعليم قرآن وإن تعين، Baca Selanjutnya . . .

Hasil BMQ (7): Penulisan Huruf Qaf dengan Satu Titik Di Atas

Pertanyaan: Pada tahun kemarin, di beberapa grup whatsapp sempat diramaikan dengan rekaman video tentang cetakan mushaf Alquran yang nampak beda dengan cetakan mushaf Alquran pada umumnya. Bedanya dari segi titik, misalnya pada cover tertulis “al-Qur’an al-Karim” (begitu dibaca oleh perekam video), karena huruf QAF yang biasanya ditulis dengan dua titik di atas, di mushaf itu ditulis dengan satu titik di atas, begitu pula pada contoh-contoh lain di awal surat al-Baqarah: (wa yuqimun al-shalat/wa yufimun al-shalat), mohon penjelasan tentang perbedaan yang ada pada mushaf tersebut? Jawaban: Persoalan tanda baca, titik, dan harokat/syakal dalam penulisan Alquran dibahas dalam ilmu Dhabth atau ilmu Baca Selanjutnya . . .

Hasil BMQ (6): Waqof di Selain Tanda Waqof dalam Mushaf

Pertanyaan: Mohon penjelasan tentang waqaf wal ibtida’. Misal ketika seorang qori yang simaan 30 juz membaca dengan cara hader (cepat) kemudian dia membuat waqof wal ibtida’ sendiri di luar tanda waqaf di dalam mushaf, apakah diperbolehkan? Jawaban: -Boleh, meskipun membaca Alquran dengan memperhatikan waqof ibtida’ yang bagus itu lebih afdlol, sebagaimana tanda waqof yang ditulis dalam mushaf. -Yang tidak boleh adalah ketika seseorang waqof pada tempat-tempat seperti berikut: (إن الله لا يستحيي) (وما من إله) (وإني كفرت) dan semacamnya disertai dengan niatan sesuai yang ia baca tersebut. Referensi: قال الامام ابن الجزري في المقدمة الجزرية: وليس في القرآن من وقف Baca Selanjutnya . . .

Hasil BMQ (5): Bolehkah Wanita Berhadas Memindahkan Mushaf dengan Alas?

Pertanyaan: Bolehkah orang yang berhadas seperti dalam keadaan haid memindahkan mushaf Alquran dengan alas atau lemek ke tempat yang layak atau bagaimana cara yang diperbolehkan dalam keadaan seperti itu? Jawaban: Seorang yang sedang berhadats, baik besar atau kecil, haram untuk menyentuh atau membawa mushaf, meskipun dengan memakai alas atau lemek. Dalam keadaan darurat, serta tidak memungkinkan untuk bersuci, contohnya kawatir mushaf terbakar atau jatuh ke tempat yang hina, boleh menyentuh atau mengambilnya meski dalam keadaan berhadats, bahkan yang demikian adalah wajib. Referensi: يحرم على المحدث مس المصحف وحمله ، سواء حمله بعلاقته أو بغيرها، سواء مس نفس الكتابة أو الحواشي Baca Selanjutnya . . .