Dari Kitab Ash- Shiyam: Perkara yang Menjadikan Puasa Dihukumi Makruh

Bulan ramadhan telah memasuki hari ke dua puluh. Artinya, sepuluh hari lagi kita menahan lapar dan dahaga, atau “puasa” sebelum menjemput “hari kemenangan”. Berpuasa termaktub dalam Syari’at Islam atau kajian Fiqih, terdapat perkara-perkara yang menjadikan puasa itu sempurna dan ada beberapa perkara yang membuat puasa itu menjadi kurang sempurna. Dalam konten ini, mengenai beberapa perkara yang menjadikan puasa bisa dikatakan sempurna, ketika orang yang berpuasa menjalankan apa yang menjadi wajib dan sunahnya puasa. Akan tetapi ada beberapa perkara yang menjadikan puasa kita kurang sempurna, yaitu ketika kita mengerjakan perkara yang dapat memakruhkan puasa. Dalam pembahasan kali ini kita akan membahas mengenai Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Perbedaan Waktu Imsak, Waktu Subuh Sebenarnya dan Waktu Ikhtiyat

Waktu Imsak merupakan penanda bahwa ‘Imsak’ atau menahan yang sesungguhnya akan segera dimulai, jadi kita bersiap-siap. Bila kita berhenti makan dan minum saat pas waktu subuh, khawatir sudah masuk subuh. Hal tersebut membuat puasa kita tidak sah/batal. Oleh : Muhammad Zaki Fahmi* Ada seorang Ustadz yang mencoba untuk membenarkan tentang pemahaman yang salah kaprah, menurutnya. Pemahaman tersebut tentang “istilah Imsak”. Imsak merupakan waktu yang diambil dari waktu Subuh, yaitu 10 menit sebelum Subuh. Misal waktu Subuh itu pukul 04.20 WIB, maka waktu Imsak itu 04.10 WIB. Maka saya akan mencoba untuk menanggapinya dengan ilmu Falak setingkat Madrasah Tsanawiyah (SMP). Imsak (dalam Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Puasa, Qodho dan Fidyah

Oleh : Muhammad Fuad Hasyim  …. Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu untuk berpuasa…. Kalimat di atas merupakan sebagian dari arti ayat Al-Quran (Q.S. Al Baqoroh;183) yang menjadi landasan menjalankan ibadah Puasa bagi sekalian mukminin. Namun dalam realitas sosialnya, ternyata ada beberapa orang yang tidak bisa/kurang mampu menjalankan ibadah Puasa. Dengan berbagai faktor, seperti sakit, bepergian, melahirkan, haidh, nifas, dlsb.  Sehingga  atas kewajiban yang tidak terlaksana itu diyakini sebagai hutang. Oleh karena itu, hutang harus dibayar, diberikanlah tuntunan yakni Qodho dan Fidyah. Qodho dalam arti yang sederhana ialah mengganti. Mengganti ibadah yang seharusnya dilakukan di waktu lainnya.  Mengqodho meliputi  Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Meng(k)aji Wadzāif al-Muta’allim

Meng(k)aji Wadzāif al-Muta’allim Menyoal Fondasi Etis dan (Re)orientasi terhadap Ilmu Oleh: Imam Ghozali dan Ahmad Musthofa Haroen Sekadar Mukadimah Makalah sederhana ini ingin dimulai dari kemauan dan kesadaran untuk ambil bagian dalam menghidupkan, merayakan, dan mengembangkan tradisi. Apa dan mengapa tradisi? Dalam batas pengertian umum bahwa tradisi merupakan khazanah yang diwarisi dan diwariskan, di situ terkandung makna ihwal kedekatan dan relevansi bagi para pewarisnya. Dekat, karena dengan tradisi seseorang atau kelompok menjadi mungkin untuk melakukan pengenalan “ke-dalam” yang dengannya upaya membangun gagasan dan sikap menemukan keutuhan sekaligus kesinambungan antara masa lalu (madli), masa kini (hal) dan masa depan (mustaqbal). Relevan, Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Haruskah Perempuan Berkarier?

KRAPYAK – Membalut kajian pagi dengan tema Perempuan Karier dalam Pandangan Islam, Divisi Keputrian Pondok Pesantren Al Munawwir Ahad, 26/02/2017 mengadakan kajian Fiqih Nisa’ dengan pembicara M. Dluha Luthfillah, S.Th.I. yang dihadiri oleh santriwati dari berbagai komplek di Pondok Pesantren al-Munawwir. Bertempat di Aula AB, kajian ini selain bertujuan untuk menambah wawasan santriwati mengenai Perempuan Karier dan Islam, juga sebagai sarana meningkatkan tali silaturahim antar santriwati. Pada awal kajian, Pak Dluha menyampaikan definisi singkat mengenai perempuan karier yang berartikan perempuan yang berkecimpung di kegiatan profesi. Beliau juga memberikan contoh beberapa perempuan di masa pra-Islam dan Islam awal yang bisa disebut sebagai Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Enam Tahun Bersama Minhajut Tholibin

Inilah momen yang dinanti-nanti oleh semua santri Ma’had ‘Aly setelah sekian lama hampir 6 (enam) tahun mengkaji kitab minhajut tholibin. Mungkin oleh sebagian orang menganggap waktu 6 tahun itu adalah waktu yang lama, tidak efektif, menjenuhkan dan lain sebagainya. Tapi bagi santri yang mengalami tersebut, sama sekali tidak ada keluhan seperti itu, dengan penuh semangat, ulet, serius, tertawa, guyon, gojlokan, kadang juga ada perseturuan, dan suasana lainnya dalam mengkaji ini, sehingga sampai pada mengkhatamakaan kitab tersebut. Banyak orang menyebut kitab minhajut tholibin adalah kitab jimat, belum dianggap ampuh kalau belum pernah mengkaji kitab tersebut. Karena kitab minhaj adalah karanganya Imam Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Tampilan Aplikasi Al-Quran Pada Gadget, Mushafkah?

Pertanyaan: 1) Apakah tampilan aplikasi al-Qur’an termasuk mushaf? 2) Apa hukum membawa HP (handphone) yang ada apliksasi al-Quran bagi orang yang berhadats? Jawaban: 1) Tampilan tulisan Aplikasi al-Qur’an tidak termasuk mushaf tapi dihukumi sebagaimana mushaf al-Qur’an. تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 2 / ص 131) ( وَ ) حَمْلُ وَمَسُّ ( مَا كُتِبَ لِدَرْسِ قُرْآنٍ ) وَلَوْ بَعْضَ آيَةٍ ( كَلَوْحٍ فِي الْأَصَحِّ ) ؛ لِأَنَّهُ كَالْمُصْحَفِ وَظَاهِرُ قَوْلِهِمْ بَعْضَ آيَةٍ أَنَّ نَحْوَ الْحَرْفِ كَافٍ وَفِيهِ بُعْدٌ بَلْ يَنْبَغِي فِي ذَلِكَ الْبَعْضِ كَوْنُهُ جُمْلَةً مُفِيدَةً وَقَوْلُهُمْ كُتِبَ لِدَرْسٍ أَنَّ الْعِبْرَةَ فِي قَصْدِ الدِّرَاسَةِ وَالتَّبَرُّكِ بِحَالِ الْكِتَابَةِ دُونَ مَا Baca Selanjutnya . . .

Bagikan

Belajar Agama Secara Otodidak, Bolehkah?

Deskripsi masalah: Dewasa ini perkembangan teknologi sangatlah pesat, di antaranya adalah digitalisasi media cetak maupun elektronik. Perkembangan teknologi ini mempermudah segala bidang kehidupan, tak terkecuali bidang agama. Proses pembelajaran agama sekarang dipermudah dengan adanya software dan hardware. Contohnya seperti kitab – kitab elektronik baik kitab lampau (klasik) ataupun kontemporer. Ditemukan pula berbagai perangkat elektronik seperti perangkat untuk belajar membaca Al-Qur’an, bahasa arab dsb. Dengan kemudahan – kemudahan ini masyarakat awam pun menjadi bersemangat dalam menggali dan mempelajari agamanya. Namun seiring berjalannya waktu ada sebagian masyarakat yang menjauhi majelis – majelis ilmu dan mengatakan bahwa belajar agama tak perlu lagi berguru Baca Selanjutnya . . .

Bagikan