Bolehkah Sholat Gerhana Berdasarkan Hisab?

durasi baca: 2 menit

boleh sholat gerhana

Oleh : Ibnu Zahid Abdo el-Moeid

Mengingat bulan Januari adalah musim hujan sehingga langit cenderung mendung, lalu bagaimana hukumnya shalat gerhana ketika gerhananya sendiri tidak terlihat, yakni mendung?

Pendapat pertama : Ibnu Hajar di dalam kitab Al-Tuhfah mengatakan bahwa: Jika bulan atau matahari terhalang oleh mendung sebelum gerhana terlihat tetapi menurut ahli hisab terjadi gerhana maka tidak ada konskuensinya, artinya tidak sunnah sholat gerhana, karena hukum asalnya tidak terjadinya gerhana.

baca juga : Haruskah Perempuan Berkarier?”

Namun jika bulan atau matahari terlihat gerhana kemudian mendung lalu bimbang gerhana sudah selesai atau belum, walaupun menurut ahli hisab gerhana sudah selesai maka tetap sunnah sholat gerhana karena hukum asalnya terlihatnya gerhana. Beliau menegaskan tidak ada tempat bagi ahli hisab dalam hal ini, yakni tidak boleh berdasarkan hisab semata walaupun hisab yang qoth’i sekalipun.

Pendapat kedua : Mengqiyaskan seperti halnya hilal, dari Ibnu Daqiq Al-Iidi dan Ibnu Hajar di dalam kitab Tuhfahnya, Syeikh Bakhit Al-Muthi’i menjelaskan bahwa jika menurut hisab yang qoth’i (kuat kepastinnya) hilal sudah ada dan memungkinkan untuk bisa dilihat setelah maghrib, namun ternyata tidak bisa dilihat karena terhalang mendung maka hal ini bisa menggunakan perhitungan hisab untuk penentuan awal bulan.

Jika penentuan awal bulan saja yang notabene menentukan sesuatu yang wajib cukup dengan hisab yang qoth’i maka apalagi untuk menentukan sesuatu yang sunnah, gerhana misalnya. Kita semua tahu bahwa hisab hilal, gerhana bulan maupun gerhana matahari adalah perhitungan yang sama-sama pasti dan meyakinkan.
مسألة) : إذا اقتضى الحساب القطعي وقوع الخسوف أو الكسوف ولم يشاهد لحيلولة غيم هل تصلى حينئذ أولا ؟ قياس ما مر في الهلال عن ابن دقيق العيد وابن حجر في التحفة وأقره الشيخ بخيت المطيعي أنه لو د ل الحساب القطعي على وجود ه وإمكان رؤيته بعد الغروب ولم ير بالفعل لحيلولة غيم أنه يكفي , الإكتفاء هنا فإذا اكتفي هناك بمقتضى الحساب القطعي مع تعلقه بالواجب وهو الصوم أوالإفطار فأولى أن يكتفى هنا , وقـد مر أن حساب الأهـلة والخسوف والكسوف قطعي , لكن قال ابن حجر في التحفة ومثله في المغني والنهاية أنه لوحال سحاب وشك في الإنجلاء أوالكسوف لم يؤثر فيفعلها في الأول لأن الأصل بقاؤه دون الثاني لأن الأصل عدمه ولا نظر في هذا الباب لقول المنجمين مطلقا وإن كثروا لأنه تخمين وإن اطرد ويفرق بين هذا وجواز عمل المنجم في الوقت والصوم بعلمه بأن هذه الصلاة خارجة عن القياس فاحتيط لها وبأنه يلزمه القضاء في الصوم وإن صادف كما يأتي فله جابر وهذه لاقضاء فيها كما مر فلا جابر لها وبأن دلالة علمه على ذينك أقوى منها هنا , وذلك لفوات سببها إهـ وقال إبن قاسم قوله ( وبأنه يلزمه القضاء في الصوم ) وقد يعكس الفرق بهـذا فيقال لما لم يمكن تدارك هذه بالقضاء فينبغي جوازها لئلا تفوت رأسا ولا كذلك الصوم إهـ وهذا الفـرق إنما يتم على القول بعـدم إجـزاء صوم الحاسب المستند لحسابه وهو ما اعتمده في التحفة وأما على القول بإجزائه وهو مااعتمد ه الخطيب والرملي فلافرق بين الصوم وهذه الصلاة في عدم لزوم القضاء

Apakah Sunnah Takbiran Saat Terjadi Gerhana?

Di masjid-masjid Jawa Barat, saat terjadi gerhana diramaikan dengan takbiran seperti halnya takbiran hari raya. Mulai awal gerhana sampai berakhirnya gerhana.

baca juga : Patuh Kepada Orangtua, Berikhtiar Mendekati-Nya dan Semangat Terus itu Kunci Hafalanku”

Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا (البخاري

Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan tidaklah terkait kematian atau kehidupan seseorang. Karenanya jika kalian melihat gerhana itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah dan bersedekahlah (HR. Bukhari)

Sependek yang saya tahu para ulama dalam koridor madzhab empat tidak memaknai “Fakabbiru” di dalam hadits tersebut dengan takbiran seperti hari raya tetapi bermakna mengagungkan Alloh dalam arti kekuasaan alloh yang sangat luar biasa di mana benda-benda langit yang besar (matahari dan bulan) tunduk dan patuh atas perintah Alloh SWT. atau dengan kata lain katakanlah “Allohu Akbar“.

Wallohu A’lam

*Penulis adalah Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama Kabupaten Gresik

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *