Belajar Berkarya dari Sang Pionir Kamus (Mengenang 4 Tahun KH. A. Warson Munawwir)

Oleh : Hafidhoh Ma’rufah*

Pagi-pagi, sekitar ba’da Shubuh, Lurah Pondok, Khalimatu Nisa mengumumkan mengenai hari ini, 18 April 2017, empat tahun lalu pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek Q kembali ke rahmatullah.  Seruan ke Maqbarah secara berjama’ah dari lurah, menyebar ke seluruh penjuru pondok. Cukup mendadak memang seruan ziarah ini, tapi bukan pesantren namanya jika santri tidak bersemangat untuk ziarah ke makam Kiainya.

Pesantren terkenal dengan sistem figure sebagai role of mode, dalam hal ini Kyai adalah figure tersebut. Baik model berfikir, berbusana, maupun cara berpendapat yang digunakan kyai dalam menanggapi problema masyarakat. Kiai begitu kharismatik, jika kita bertanya pada santri mengenai suatu hukum, maka jawaban yang sering kali keluar adalah jawaban yang pernah disampaikan pula oleh Kiainya. Begitulah santri begitu tawadhu’ dan menghormati guru besarnya.

Dalam catatan ini, saya tidak mengulas mengenai biografi beliau secara detail. Karena saya baru nyantri di Krapyak sekitar dua tahun. Saya mengetahui sepak terjang beliau lewat tutur kata Ibu Nyai, Asaatidz, maupun senior-senior di pesantren. Saya yakin di balik berdirinya pondok, ada seorang yang rela berkorban demi pesantrennya, demi syiarnya Islam. Seperti yang dikatakan oleh Ustadz Maulidi dalam suatu pengajian bandongan, “mengapa tutur kata kiai selalu dikenang umat dari pada profesor atau doktor? Karena keikhlasan pada kiai, tutur katanya selalu diingat umat”. Begitu juga dengan pesantren ini, di baliknya ada aktor utama yang menjadi idola santri sekaligus umat. Dialah KH. A. Warson Munawwir.

Tradisi Peninggalan

KH. A. Warson Muanwwir adalah ulama yang produktif. Hal ini dibuktikan dengan hasil karya beliau, Kamus Bahasa Arab, yang diberi nama Al Munawwir. Kamus yang terbilang cukup fenomenal. Kelahirannya menggeser kamus sebelum-sebelumnya yang sering digunakan, yaitu kamus Al Munjid karya salah seorang orientalis asal Lebanon, Louis Ma’luf.

Sesuatu yang harus kita ketahui adalah menulis dapat menyebabkan umur bertambah. Dengan menulis, hasil belajar, berfikir, maupun membaca kita akan dinikmati oleh khalayak umum. Kiai Warson telah melakukan itu. Walaupun badan beliau bersemayam dalam tanah dengan iringan do’a tanpa henti dari santri maupun umat, tetapi hasil karya beliau tetap bisa dirasakan umat. Kamus karya Kiai Warson telah digunakan oleh jutaan orang dari dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan dalam buku biografi beliau karya santrinya juga menyebutkan jika kamus karya Kiai Warson tersimpan dalam perpustakaan di Vatikan dan digunakan oleh berbagai kalangan di Timur Tengah.

Untuk mencapai keberhasilan tersebut, jelas membutuhkan usaha yang tidak mudah. Usaha ini jelas tidak seperti usaha Bandung Bondowoso yang harus membuat seribu candi untuk Roro Jonggrang dalam waktu satu malam. Menulis, membaca, membuka lembaran-lembaran, dan menggoreskan pena dilakukan secara terus-menerus. Tak heran jika Aguk Irawan mengabadikan aktivitas Kiai Warson dalam bait-bait pusinya :

Lima dasawarsa mudawam membasuh debu
Di antara saksi kertas yang senyap
Lidah-lidah yang mengendap udara yang pengap
Di antara doa dan kalimat jalalah
Di antara papan peneduh dan karus marut arti kata
O ia begitu hanyut bersama gelombang waktu
Siang malam meratapi lembar demi lembar
Tak henti memengang pena di sisa-sisa suara parau
Intrik politik dan omong kosong kekuasaan
O siapa yang tahu dan mendengar?

(Cuplikan pusii karya Aguk Irawan berjudul “ Suatu Hari, Ketika Engkau Pergi “)

Kiai Warson menulis kamus sejak tahun 1957, ketika berliau masih berusia 23 tahun, bahkan jauh sebelumnya. Jangan berpikir ketika itu Kiai Warson hanya menulis kamus tanpa melakukan aktivitas lain. Selain menulis kamus, beliau juga belajar kepada KH Ali Ma’sum, mengajar ngaji, juga aktif di beberapa organisasi. Bisa dibayangkan bagaimana beliau membagi seluruh waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat dan tidak sedikit seperti itu.

Kiai Warson dengan tradisi membaca dan menulis telah membuat namanya melambung dan dikenal umat, kamusnya terus dipakai jutaan umat hingga doa yang terus mengalir dari berbagai penjuru Nusantara. Sebuah karya telah memanjangkan usia seorang meski tubuh atau jasadnya bersemayam dalam tanah. Seperti Imam Ghozali dengan Ihya’ Ulumuddinnya atau Syekh Ihsan Dahlan Al-Jampesei, ulama asal Kediri yang memiliki karya mendunia, kitab Siraj Al Thalibin dan Kiai Warson dengan kamus Al Muanwwirnya. Dengan demikian masih kah kita ragu akan dua tradisi yang selalu dilakukan para ulama? Iqra’ tsumma uktub !

*Penulis adalah Santriwati Komplek Q 

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *