Bahasa Bu Nyai Sukis

durasi baca: 2 menit
Doc : almunawwir.com

Ibu Kiai Zainal namanya Bu Nyai Sukis (istri Mbah Kiai Munawwir). Bu Sukis satu rumah dengan Mbah KH. Ali Maksum (menantu) dan anak-anak beliau, yakni Gus Bik (KH. Atabik Ali), Mbak Ifah, Mbak Genuk, Gus Jis (KH. Jirjis Ali). Gus Kelik (almarhum) dan Mbak Ida belum lahir waktu itu.

Bu Nyai Sukis ‘kan juga sudah sepuh, selain itu dahulu di zaman Mbah Munawwir masih sugeng santri juga masih terbilang sedikit. Bahasa yang dipakai sehari-hari masih bahasa Jawa, sebab santri-santri kebanyakan dari Jawa Tengah dan sedikit dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Sangat jauh berbeda ketika zaman Mbah Ali memegang kendali. Wow, santri-santri dari Jakarta membludak, terutama dari Klender.

Bersamaan dengan perkembangan pondok, dan santri-santri yang memakai bahasa Indonesia mulai banyak, otomatis Bu Nyai ‘kan sering mendengar bahasa Indonesia dari Bu Hasyimah (istri Mbah Ali). Lama-lama berani memakai bahasa Indonesia meskipun dengan kosakata terbatas.

Baca Juga : Harlah, Momentum Sejarah Hingga Memoar Mbah Zaenal

Tan kocapo, suatu hari ada tamu keluarga dari Jakarta. Begitu pagi saat sarapan, hidangan sudah di hadapan para tamu, ditinggal Bu Hasyimah mengambil sendok. Saat itulah Bu Nyai Sukis yang ambil peran mempersilakan tamu, “Ayo makan, ayo makan.”

Tamu pun paham. Mulailah mereka ambil nasi dan lauk. Ketika tamu mau ambil sayur, lha dalah, Bu Nyai Sukis nyeletuk, “Ya, ini jangan, ini juga jangan.”

Tamu merasa bingung. Pikirnya, “Mau ambil sayur kok tidak boleh?” Akhirnya diurungkan, tidak jadi ambil, cukup makan tanpa sayur.

Begitu Bu Hasyimah datang, dan mempersilakan ambil sayur, oooh baru paham bahwa ‘jangan’ itu bahasa Jawa dari sayur. Tapi sudah kadung malu mau ambil sayur dibatalkan, “Ambil tempek lagi aje dah.”

Anaknya yang menjadi santri menegur, “Bu, di sini ‘tempe’ nggak pake ‘k’!” Sang ibu menyahut, “Iye, iye, tempek ‘kan?”
Allahu yarham

29 April 2015


*Diambil dari naskah yang sedang saya sunting (belum jadi buku), “Mengenang Mbah Zainal; 50 Fragmen Keteladanan KH. Zainal Abidin Munawwir susunan KH. Munawir Abdul Fatah dilengkapi Kumpulan Khutbah Mbah Zainal rangkuman KH. Hilmy Muhammad Hasbullah” – fragmen 29 halaman 53-54

**Salah satu pesan sekaligus teladan Mbah Zainal di hari Jumat; ketika jumatan, datanglah ke masjid awal-awal jauh sebelum adzan berkumandang, lalu jangan lupa shalat taubat 2 rakaat, kemudian shalat dhuha minimal 4 rakaat. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *