Mengenal Budaya ‘Mengaji’ Alquran Kaum Orientalis

durasi baca: 3 menitOleh : Hana Rosita* Sebelum mengenal bagaimana budaya kaum orientalis dalam ‘mengaji’ Alquran, ada baiknya tulisan ini dimulai dengan mengenal terlebih dahulu siapakah itu orientalis. Secara sederhana orientalisme dapat diartikan sebagai sebuah gerakan pemikiran terhadap luar Eropa. Jadi, orientalis adalah seseorang yang melakukan kajian tentang masalah-masalah ketimuran, mulai dari sastra, bahasa, antropologi, sosiologi, psikologi sampai agama dengan menggunakan paradigma eurosentrisme (pengalaman barat), hingga menghasilkan konklusi yang distortif tentang objek kajian yang dimaksud. Belum diketahui secara pasti sejak kapan dan siapa orang Eropa yang pertama kali memiliki perhatian terhadap studi ketimuran. Orientalisme dimulai oleh kaum orientalisten dengan mempelajari bahasa Arab dan Baca Selanjutnya . . .

Gus Mus: Kembali ke Alquran dan Hadis itu kembali ke Pesantren

durasi baca: 2 menitDoc @Almunawwir.com Krapyak – Saat ini pendakwah-pendakwah anyaran di Televisi banyak yang tiba-tiba menurunkan fatwa. Semua digebyah-uyah hingga melahirkan cara pandang yang hitam putih. Seperti, sedekah laut dibilang syirik, selametan dan tahlil dibid’ah-bid’ahkan, ada ziarah kubur kaget—padahal tidak pernah ziarah, ada Islam Nusantara kaget, semua serba kaget. Padahal kita tahu, para kiai Krapyak yang luar biasa seperti KH Munawwir, KH Ali Maksum, KH Dalhar dan KH Warson adakah dari mereka yang pernah berfatwa? Walisongo saja tidak pernah berfatwa. Saat ini, ustaz-ustaz baru sudah mudah memberi fatwa. Demikian ditegaskan Gus Mus (KH A Mustafa Bisri) dalam Haflah Khotmil Quran dan Haul Baca Selanjutnya . . .

Bedah Khotbah,Khotbah Kiai Dalhar Selalu Mendoakan Keamanan Indonesia

durasi baca: 2 menitDoc @Nusa Media Krapyak – “Dalam khotbahnya, Kiai Dalhar selalu mendoakan keamanan Indonesia”, ujar Dr H Tantowi dalam acara “Bedah Khotbah KH Dalhar Munawwir”. Perkara ini sungguh penting, mengingat maraknya ujaran kebencian dan usaha mempolitisir agama oleh pendakwah dalam khotbahnya. Khotbah lantas menjadi medium dalam itikad memobilisasi kepentingan politik tertentu. “Sebenarnya, meminta kebaikan bagi bangsa dan negara di dalam khutbah itu merupakan pakem atau struktur khotbah yang ada sejak era Sahabat Rasulullah saw. Jadi kalau ada khotbah yang didoakan hanya umat Islam tanpa mendoakan bangsa dan negara yang dihuni, itu apologis.” lanjut alumni Nurussalam yang juga menjadi dosen di UIN Baca Selanjutnya . . .

Gus Asid: Muharroman Menjadi Modal Mental Santri untuk Berkarya dan Berprestasi

durasi baca: 2 menitDoc @muharromankrapyak  Serangkaian acara Muharroman dan Komplek Meeting telah berlangsung selama satu bulan. Penutupan acara tersebut dilangsungkan pada Kamis Malam, 18 Oktober 2018/08 Safar 1440 H bertempat di Aula AB Al-Munawwir, diramaikan oleh santriwan-santriwati dari berbagai komplek dan juga dihadiri oleh para pengasuh Pondok Pesantren Krapyak. Acara penutupan dibuka dengan Spesial Performance Kreasi Syiir dari Komplek L putra dan Komplek Hindun. Ahmad Mufid, dalam sambutannya selaku perwakilan panitia mengatakan, “Muharroman dan komplek meeting adalah ajang atau wadah bagi para santri untuk mengekspresikan bakat-bakat yang dimiliki dan melalui Muharroman ini pula silaturahmi antar komplek dapat terjalin dengan baik”. Demikian merupakan tujuan Baca Selanjutnya . . .

Muharroman Pacu Kreativitas Santri, untuk Berkreasi Tiada Henti

durasi baca: 1 menitDoc @ muharromankrapyak Selalu ada cerita menarik dalam dunia pesantren. Salah satu contohnya adalah acara Muharroman Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, yang menjadi ajang kreativitas dan medium dalam menunjukkan bakat-bakat terpendam para santri. Pada Ahad (16/9) lalu telah berlangsung lomba kaligrafi yang diikuti oleh santri putra dan putri dari perwakilan komplek-komplek Pondok Pesantren Krapyak dan telah menghasilkan tulisan-tulisan beserta desain yang sangat indah. Siapa sangka santri juga lihai dalam melukis? Pada Kamis (27/9) telah berlangsung lomba kreasi syi’ir, dan pada Ahad (30/9) juga telah diadakan lomba kreasi busana bahan bekas. Baca Juga : Muharroman Asyik, dari Adu Kecerdasan sampai Kolektifitas Strategi Tim Baca Selanjutnya . . .

Muharroman Asyik, dari Adu Kecerdasan sampai Kolektifitas Strategi Tim

durasi baca: 1 menitDoc @muharromankrapyak Muharroman dan Komplek Meeting masih menjadi momen asyik di bumi Krapyak hingga saat ini. Setelah pada Jum’at (13/9) lalu grand opening, kemudian pada malam itu juga dilanjutkan lomba MHQ sebagai lomba pertama yang dilangsungkan dalam kategori lomba kepesantrenan. Beberapa jenis lomba kepesantrenan pada acara muharroman tahun ini yaitu: Musabaqah Hifdzil Qur’an, Kaligrafi, Musabaqah Syarhil Qur’an, Cerdas Cermat Pesantren, dan Musabaqah Qiro’atul Kutub. Adapun beberapa lomba kepesantrenan yang juga telah berlangsung, Ahad (16/9) lomba kaligrafi, Kamis (20/9) lomba MSQ, Jum’at (21/9) lomba Cerdas Cermat Pesantren babak penyisihan. Untuk lomba kategori kepesantrenan yang masih akan berlangsung yaitu lomba MQK pada Baca Selanjutnya . . .

Peringati Tahun Baru Islam, Pesantren Al Munawwir Gelar Event Akbar Bertajuk Lomba Muharroman

durasi baca: 2 menitDoc @muharromankrapyak Krapyak – Tahun Baru Islam 1440 H di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak selalu diperingati dengan meriah. Sebagai salah satu upaya realisasi spirit di tahun baru, Pesantren Al Munawwir secara rutin menyelenggarakan  “Lomba Muharroman dan Komplek Meeting”. Perhelatan yang bertajuk  “Santri, Nasionalisme dan Masa Depan Bangsa” secara resmi dibuka oleh KH Muhammad Munawwar selaku dewan pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, tepat pada Kamis, 13 September 2018. Adapun lomba-lomba yang digelar dalam perhelatan akbar Muharroman ini antara lain; Musabaqah Hifzil Quran, Musabaqah Syarhil Quran, Musabaqah Qiroatul Kutub, Dramatikal Fikih, Kreasi Syiiran, Cerdas Cermat Pesantren, Kaligrafi, Kreasi Busana Baca Selanjutnya . . .

Bahasa Bu Nyai Sukis

durasi baca: 2 menitDoc : almunawwir.com Ibu Kiai Zainal namanya Bu Nyai Sukis (istri Mbah Kiai Munawwir). Bu Sukis satu rumah dengan Mbah KH. Ali Maksum (menantu) dan anak-anak beliau, yakni Gus Bik (KH. Atabik Ali), Mbak Ifah, Mbak Genuk, Gus Jis (KH. Jirjis Ali). Gus Kelik (almarhum) dan Mbak Ida belum lahir waktu itu. Bu Nyai Sukis ‘kan juga sudah sepuh, selain itu dahulu di zaman Mbah Munawwir masih sugeng santri juga masih terbilang sedikit. Bahasa yang dipakai sehari-hari masih bahasa Jawa, sebab santri-santri kebanyakan dari Jawa Tengah dan sedikit dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Sangat jauh berbeda ketika zaman Mbah Baca Selanjutnya . . .

Diskusi Pesantren dan Post-Truth, Dr. Moch Nur Ichwan : Memahami Identitas Pesantren dan Kampanye Islam Moderat adalah Modal Utama Santri

durasi baca: 2 menitDoc @komplek_H Krapyak –  Arus informasi, dalam perkembangan teranyar, kini menikam titik nadir manusia. Fakta dan opini berjibaku dan berseliweran di dinding media sosial yang menjadi saluran utama persebaran informasi. Arusnya tak terbendung. Sebab produksi informasi, kini kian diminati oleh banyak kalangan dari banyak kepentingan.   Informasi lantas menjejaki hal dasar manusia yaitu keingin-tahuan. Segala soal disajikan. Akhirnya, informasi tidak jauh nasibnya dengan parade komentar-komentar yang saling bersahut-sahutan. Baik itu berupa pujian, gagasan-gagasan cemerlang, kritik dan saran ataupun fitnah dan ujaran kebencian. Ha ini berimbas pada apa yang belum lama ini dirasakan oleh pihak Pesantren Al Munawwir yaitu hoaks. Dalam Baca Selanjutnya . . .

Harlah, Momentum Sejarah Hingga Memoar Mbah Zaenal

durasi baca: 3 menitDoc: @ittaqifawzia Agaknya perlu kita refleksikan bersama. Genggaman uswah tidaklah hadir begitu saja, di balik itu ada sejarah bernilai kebaikan dan berkah dari Sang Muasis, Sang Tauladan. Laku ikhlas dan pulir-pulir doa panjang merekalah penyebab keteladanan masih eksis hingga jaman millenial ini. Tepat 4 Agustus 2018 lalu merupakan momentum pengerat genggaman uswah itu. Hari lahirnya Ibu kita bersama Ibu Nyai Hj. ida Fatimah Zainal S. Ag., M.S.I, sekaligus berdirinya Komplek R2 Ponpes Al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta. Para santriwati sungguh emosional dan bahagia mensyukuri hari jadi ini. Kerajaan kecil yang selama ini menjadi tempat bernaung berbahagia beserta Bu Nyai sebagai Sang Ratu Baca Selanjutnya . . .

Upacara HUT  RI ke-73, Abah Uzi: Kemerdekaan Ini  Harus Benar-Benar  Kita  Syukuri!

durasi baca: 2 menitDoc : @qomar_almuna Krapyak (18/08/2018)- Dalam  rangka  memperingati  Hari  Kemerdekaan  Indonesia yang  ke-73, Pondok Pesantren Al-munawwir Krapyak, Yogyakarta mengerahkan seluruh santrinya untuk mengikuti upacara bendera. Bertempat di halaman masjid, upacara yang berlangung khidmat sejak 08.15 pagi, juga dihadiri oleh para pengasuh dari berbagai komplek, termasuk di antaranya Romo KH. Najib Abdul Qodir Munawwir. Hadir sebagai pembina upacara yakni KH. Fairuzzi Afiq pengasuh komplek Nurussalam. Dalam amanatnya, Abah uzi—beliau biasa dipanggil, mengapresiasi semangat  para santrinya untuk mengikuti upacara HUT RI ini. Beliau menyampaikan, bahwa kemedekaan yang kita  rasakan sekarang  ini bukanlah hadiah maupun belas kasih penjajah. 350 tahun bergerilya melawan Belanda Baca Selanjutnya . . .

Al Munawwir Helat Upacara Kemerdekaan Republik Indonesia

durasi baca: 1 menitDoc @almunawwir_com KRAPYAK –Upacara Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 dihelat di Pondok Pesantren Al Munawwir. Seluruh santri berbaris rapih untuk menyukseskan sekaligus menyemarakkan upacara sakral tersebut. Upacara ini merupakan sebagian wujud dari rasa syukur para santri atas kemerdekaan Republik Indonesia yang dijajah selama 350 tahun dengan perlawanan penuh. Selaku pembina upacara dalam kesempatan kali ini adalah KH Fairuzi Afiq Dalhar. Pidato amanah disampaikan dengan lugas menyinggung perjuangan kiai dan ulama dalam memerdekakan bangsa Indonesia. Baca Juga : Jelang HUT RI, Pondok Krapyak Gelar Diskusi “ Membedah Kiprah Kyai dan Santri Sebagai Benteng NKRI” “Perlu diketahui, para ulama, kiai, dan pejuang telah berusaha Baca Selanjutnya . . .

Jelang HUT RI, Pondok Krapyak Gelar Diskusi “ Membedah Kiprah Kyai dan Santri Sebagai Benteng NKRI”

durasi baca: 2 menitDoc. NurAfifa KRAPYAK – Forum Komunikasi Mahasantri Pondok pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum kembali menggelar diskusi rutin  bulanan bertema “Membedah Kiprah Kyai dan Santri sebagai Benteng NKRI”. Acara yang tebuka untuk umum ini digelar di komplek H Yayasan Ali Maksum pada  Ahad (12/08/2018). Pukul  13.45 WIB  acara  dibuka dengan  doa  bersama. Setelah itu, seluruh  hadirin berdiri menyanyikan  lagu Indonesia Raya  dengan  khidmat. Hadir sebagai narasumber yakni KH Abdul Muhaimin  dan KH Hilmy Muhammad. Pak Abdul, sapaan KH Abdul Muhaimin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kotagede sekaligus alumni Krapyak, merasa sangat berbahagia dapat terlibat dalam diskusi ini. “Bagi saya, tidak  Baca Selanjutnya . . .

Membendung Paham Radikal, Sahal : Santri Perlu Formulasi Jitu

durasi baca: 1 menitFoto @den_tamyiz Jakarta – Pembacaan terhadap konten-konten sensitif beralur sengit. Banyaknya narasi radikalisme dan terorisme yang menggelembung di media sosial melahirkan pemahaman keagamaan yang rentan terhadap kultur keindonesiaan. Sebagai bangsa yang berbudi luhur dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban dalam wujud toleransi dan tenggang rasa terhadap sesama, perlahan mulai digerogoti oleh paham radikalisme keagaamaan. Gejala itu yang menjadi pemantik diskusi dalam agenda “Kopdar Santrinet Nusantara” yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta, Sabtu (11/08/18). “Pengarus-utamaan moderasi Islam itu sangat perlu” ujar Akhmad Sahal. “Selain semakin menggelembungnya narasi Islam radikal, Sahal melanjutkan, hingga menggerus nilai-nilai keindonesiaan, moderasi Islam perlu ditingkatkan Baca Selanjutnya . . .

Launching Rangkaian Agenda Hari Santri 2018, Kemenag Sebut Santri “Pionir Perdamaian”.

durasi baca: 2 menitFoto @aisnusantara Jakarta – Semenjak Presiden Joko Widodo (Jokowi) menetapakan Hari Santri melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015, Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren senantiasa memperingati hari bersejarah yang ditetapkan pada 22 Oktober itu. Tanggal ini merujuk pada klausul “Resolusi Jihad” yang berisi fatwa kefarduan berjihad demi melahirkan peristiwa heroic 10 Nopember 1945 yang kini mashur diperingati sebagai Hari Pahlawan. Seperti peringatan Hari Santri pada 2016 dan 2017, isu kepesantrenan dan keindonesiaan menjadi idiom prioritas, kini Kemenag mengusung tema “Bersama Santri Damailah Negeri”. Isu perdamaian diangkat berdasarkan sengkarut persoalan yang dialami bangsa ini, seperti maraknya hoaks, ujaran Baca Selanjutnya . . .