Aku Terbangun di Sepertiga Malam

Ilustrasi: Sketsa Hijau

Oleh: ikhwan din*

Tulisan ini untuk diriku dan kalian—siapapun yang sedang berjuang di perantauan.

Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam.

Ya, tak seperti biasa santri santri lakukan di tengah malam yang bangun untuk menunaikan “tahajud”. Kali ini aku terbangun. Dengan wajah yang masih berantakan, aku duduk di atas alas tempat tidurku. Sambil menengadahkan kepalaku ke atas, menatap langit-langit kamar yang sengaja kugelapkan.

Bagaimana bisa aku tertidur lelap? sedang orangtuaku disana hanya mampu memejamkan mata barang satu jam-dua jam saja

Bagaimana aku bisa makan dengan lauk yang enak? sedang orangtuaku di rumah, hanya makan dengan lauk yang sangat sederhana.

Bapak mati-matian banting tulang, mencari uang halal, demi sebuah gelar “Sarjana” yang akan disandang oleh anaknya nanti.

Dan Ibu yang memikirkan bagaimana kuliahku, apakah kondisiku baik-baik saja, apakah aku telat makan, apakah aku dapat berteman dengan baik, apakah dosenku menyukaiku—

Dan masih banyak lagi.

Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam.

Aku menunduk. Memejamkan mataku, dan membiarkan air mata mengalir deras di baju yang aku kenakan.

Betapa dosanya aku jika saat menelepon orangtuaku dan hanya keluhan yang aku keluarkan,

“Bu, aku sakit.”

“Pak, uangku habis.”

Betapa dosanya aku jika saat orangtua meneleponku malah kuberi jawaban menyakitkan,

“Nanti lagi teleponnya, Bu. Tugasku masih banyak.”

Ibu ngapain telepon? Aku masih ngerjain tugas.”

Betapa dosanya aku, jika aku sampai lupa menanyakan kabar orangtuaku karena kesibukanku di dunia perkuliahan,

Betapa dosanya aku, jika tidak merasakan rindu kasih orangtua jika mereka tidak meneleponku selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, atau mungkin berbulan-bulan?

Segitu tidak peka kah aku kalau mereka sedang rindu?

Segitu tidak peka kah aku kalau mereka ingin mendengar suaraku?

Segitu tidak peka kah aku—

Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam.

Kubiarkan air mataku bercucuran membanjiri selimut tidurku,

Aku salah jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman hanya menghabiskan waktu untuk tidur di kamar. Merasakan kembali hangatnya kasur sendiri, merasakan kembali tidur tenang selama seharian.

Aku salah jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman hanya untuk bermain bersama teman lamaku, teman SMA, SMP, bahkan SD.

Aku salah jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman, tidak membawa kabar baik untuk orangtua.

Aku salah, Bu, Pak. Jika liburan nanti aku pulang ke kampung halaman, tidak bersalaman dengan kalian, mencium pipi kalian, memeluk kalian, lalu mengobrol hangat, bertukar cerita dengan kalian.

Bu, Pak. Anakmu ini sedang berjuang. Aku mungkin tidak sepintar teman-temanku yang lain, aku juga tidak lebih rajin dari mereka, apalagi soal organisasi—aku masih sering bingung membagi waktuku untuk mengaji, kuliah, organisasi dan mengerjakan tugas kuliah.

Tapi…

Bu, Pak. Percayalah, anakmu ini akan selalu memberikan yang terbaik di setiap detik, menit, dan jam yang terlewati.

Aku tidak menjanjikan bahwa aku lulus dengan gelar mahasiswa terbaik. Aku tidak menjanjikan besarnya indeks prestasi kumulatif yang kudapat. Aku tidak menjanjikan sertifikat-sertifikat juara yang kuterima, atau sertifikat-sertifikat organisasi yang kuikuti. Aku hanya bisa menjanjikan aku akan memberikan yang terbaik. Hanya untuk kalian.

Kan kupersembahkan gelar Sarjanaku untuk kalian.

Dari aku yang hidup di perantauan.

*Santri Al Munawwir Komplek L

baca juga : Peluang Usaha Era Santri Milenial: “Santri Mandiri Prestasi Negeri”

Tinggalkan Balasan