KH Marzuki Mustamar : Indonesia Rumah Besar Ahlussunnah Waljama’ah

durasi baca: 1 menitNahdlatul Ulama merupakan organisasi besar yang komitmen menjaga, meneladani, mengajarkan paham ahslusunnah waljama’ah. Demikian disampaikan oleh KH Marzuki Mustamar dalam peringatan Haul Almarhum Almaghfurlah KH Ali Maksum Krapyak ke 30 (14/01/2019). Ketua PWNU Jatim sangat menekankan kepada nahdliyin agar mengetahui dan sanggup membedakan kaidah dan tradisi teologis dari paham-paham yang berkembang di dunia Islam saat ini. Seperti Syi’ah, Mu’tazilah, Khawarij, Wahabi dan lain sebagainya. Di samping itu, Pengasuh Pesantren Gasek Malang itu menegaskan jika ajaran Ahlussunnah waljama’ah sanggup berjalan di Indonesia secara besar-besaran dan aman. Kategorisasi itbak ahlussunnah wal jamaah bukan saja Nahdlatul ulama, akan tetapi juka bagi mereka yang Baca Selanjutnya . . .

KH Miftachul Akhyar : Mbah Ali Maksum Kader Terbaik NU

durasi baca: 1 menitBeruntung sekali, Nahdlatul Ulama punya kader terbaik, kader militan seperti KH Ali Maksum Krapyak. Demikian dikatakan KH Miftachul Akhyar dalam sambutan yang beliau sampaikan dalam rangka memperingati Haul Almarhum Almaghfurlah KH Ali Maksum k-30 pada Senin, 14/01/2019. “Tiga puluh tahun yang lalu, Pejabat Rais Aam PBNU itu melanjutkan, “bagiku ada kerinduan yang dalam.” Beruntung sekali, Yogyakarta terkhusus Krapyak mempunyai kader terbaik yang dihauli sedemikian besarnya. Apalagi kalau bukan karena jasa-jasa dan inspirasi Mbah Ali yang sedemikan berpengaruhnya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Dalam kesempatan ini, KH Miftachul Akhyar juga meneroka kondisi bangsa ini di masa depan. “Kita sudah jauh Baca Selanjutnya . . .

Menag RI : Kiai Ali Maksum Figur yang Memotivasi Sekaligus Menginspirasi

durasi baca: 2 menit“Kita tahu beliau, KH Ali Maksum merupakan tokoh besar dengan teladan-teladan yang bisa kita pelajari dari manakib yang disampaikan dalam haul. Dalam artian, kita mempelajari apa-apa saja yang telah dilakukan oleh orang yang kita hauli.” Perkataan itu disampaikan oleh KH Lukman Hakim Syaifuddin yang memberikan sambutan dalam peringatan Haul Almarhum Almaghfurlah KH Ali Maksum ke-30 senin malam, 14/01/2019. Menteri Agama juga menjelaskan , apabila Kiai Ali merupakan figur tokoh besar yang tidak hanya memotivasi, tetapi juga menginspirasi. “bayangkan ketika beliau berusia 28 tahun, beliau sudah memimpin pondok pesantren.” Beliau ulama yang sangat moderat. Pemikiran-pemikiran beliau sarat dengan cara pandang moderat. Baca Selanjutnya . . .

Kisah Mbah Ali, Karib Tokoh Muhammadiyah dan Celana

durasi baca: 3 menitMbah Ali sering dianggap punya kemampuan spektakuler serta berpandangan luas. Baik dari segi keilmuan, persahabatan, sampai hal-hal seperti pesepakbola legendaris; Diego Armando Maradona dan petinju kenamaan—yang kebetulan memiliki kesamaan nama dengan beliau—Muhammad Ali. Dalam khasanah pesantren, kisah cerita seorang kiai yang memiliki kemampuan spektakuler kerapkali muncul. Cara-cara mendidik santri yang kerap aneh membuat dugaan kemampuan spektakuler itu muncul. Ketangkasan Mbah Ali dalam placing dan membaca peluang strategis sulit diragukan, juga pengalamannya dalam pembaruan pendidikan pesantren yang sangat mashur. Dimulai dari Tremas, Krapyak sampai PBNU pembaharuannya menuai banyak pujian. Lantas KH Masdar Farid Mas’udi menyebutnya sebagai kiai yang berpandangan modern. Mbah Baca Selanjutnya . . .

Kembali Kepada Kepemimpinan Ulama

durasi baca: 4 menitOleh : KH Ali Maksum Perkenankanlah di sini kami mengkaji sedikit tentang NU di hari-hari pertama didirikannya. Dengan harapan agar dapat kita petik intinya, lalu kita pegangi dalam menjalankan roda jam’iyah. Sebab bagaimanapun, para leluhur NU kita tetap lebih utama daripada kita. الفضل للمبتدي وإن احسن المقتدي “Keutamaan tetap di tangan perintis, kendati si penerus lebih baik adanya” Dalam Anggaran Dasar NU yang pertama, seperti tertuang “Statuten 1926”, didirikannya jam’iyah NU ini dimaksudkan untuk keteguhan bermadzhab empat dan juga untuk kegiatan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agama Islam. Lalu dalam pasal berikutnya, dikemukakan beberapa cara untuk mencapai maksud tersebut, yaitu: Baca Selanjutnya . . .

Bank Wakaf Mikro Almuna Menerima Penghargaan dari OJK Nasional

durasi baca: 1 menitJakarta – BWM ALMUNA menerima penghargaan dari Otoritas Jasa Keuangan dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2019. Acara ini dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia M Jusuf Kalla dan Ketua Dewan Komisioner Wimboh Santoso (Jum’at, 11/01/2019). Penghargaan itu diberikan kepada Ibu Nyai Hj. Eni Kartika Sari. Selaku Ketua Lembaga, beliau mendapat penghargaan kategori Tokoh Akses Keuangan yang berperan dalam pengembangan Bank Wakaf Mikro Almuna Berkah Mandiri. Penghargaan itu diberikan secara simbolis oleh Wakil Presiden Republik Indonesia M Jusuf Kalla. Dalam sambutannya, Wapres mengingatkan “kita akan menghadapi tahun ini dan tahun selanjutnya dengan kerja keras dan kebersamaan.” Saat ini, biaya logistik Baca Selanjutnya . . .

Pesantren “Character Building” Bangsa

durasi baca: 3 menitOleh : KH Ali Maksum Pesantren kita seluruhnya didirikan, dibina dan dikembangkan dengan cara-cara yang penuh mandiri, atau istilahnya wiraswasta penuh. Sehingga segala segi kehidupan pesantren selalu berada pada kompetensi mandiri tersebut. Para santri diarahkan pada kesadaran yang tinggi tentang tangggung jawab hari depan dan nasib umat secara mandiri. Bukan menggantungkan pada semua pihak, bahkan menurut rabaan kami, jiwa mandiri ini telah menyatu dengan jiwa kesantrian. Dalam arti, siapa tidak mandiri maka kesantriannya kurang sempurna. Karena sikap mandiri yang penuh inilah, kemudian menimbulkan berbagai dampak baru. Mandiri dalam kurikulum, mandiri dalam usaha pengembangan pesantren, dan dalam berbagai hal. Dari sini Baca Selanjutnya . . .

Pesantren: Benteng Terakhir Ajaran Islam

durasi baca: 3 menitOleh : KH Ali Maksum Kalau kita mau mempelajari sejarah dan mengenali hakekat pesantren, maka akan jelas bahwa pesantren tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan Islam di Indonesia dari kemurnian ajarannya. Di pesantren, diajarkan makna Alquran kata demi kata, makna hadis kata demi kata, juga diajarkan kitab kitab tafsir karangan para sahabat dan tabiin, kitab-kitab fiqih, tauhid, usul fiqh, tauhid, hasil penulisan para ulama mujtahid yang benar-benar ahli Alquran dan Sunnah secara langsung. Pesantren juga mengenal kita-kitab karangan orang sekarang, baik yang berbahasa Arab maupun Bahasa Indonesia. Tapi hal itu sekedar dipakai perbandingan, bukan pelajaran pokok, dan justru pesantren menempuh cara Baca Selanjutnya . . .

Membentuk Intelektual Ulama

durasi baca: 2 menitOleh : KH Ali Maksum Apabila kita berbicara masalah pendidikan di Indonesia, memang sedikit pun tidak bisa lepas dari kepesantrenan. Bukan saja karena pesantren itu adalah satu-satunya lembaga pendidikan yang tertuta di Indonesia, tetapi juga karena pesantren itu mempunyai berbagai fungsi. Dan karenanya maka sesungguhnya sistem pesantren adalah sistem yang terbaik. Pesantren mengajarkan ilmu pengetahuan, mendidik kepribadian yang luhur dan menuntut pengalaman ilmu tersebut; pesantren tetap memimbing alumninya setelah pulang, kendatipun berada di tempat yang jauh. Pesantren menjadi kekuatan spiritual, kubu pertahanan dakwah Islam. Pesantren menciptakan konsepsi, mendadar dan menguji konsepsi tersebut sekaligus memimpin operasionalnya; pesantren menanamkan jiwa yang militant Baca Selanjutnya . . .

NU, Ulama dan Umara

durasi baca: 3 menitOleh : KH Ali Maksum Sebelumnya, marilah beristidhar atau mengingat jasa-jasa para pendahulu kita yang telah mendirikan jam’iyah NU dan mengembangkannya hingga sampai pada taraf yang diarunginya sekarang. Dengan segala ketekunan, darma bakti dan pengorbanan para perintis yang sekian lama menjadi sesepuh kita, telah memberi warna sendiri pada kehidupan NU, suatu warna yang sedikit pun tidak akan terpupus selama jam’iyah NU masih ada di muka bumi. Dan inilah Khittah 1926. Lewat wadah Jam’iyah yang beliau cintai, para perintis yang mendirikan dan memimpin NU di masa lampau itu juga memberikan darma bakti kepada perjuangan bangsa untuk mencapai kemerdekaan di saat itu Baca Selanjutnya . . .

Urgensi Sikap dalam Perjuangan

durasi baca: 3 menitOleh : KH Ali Maksum Kekuatan pertahanan diri ulama, bukanlah barang murahan, bukan pula mudah membuatnya. Hal itu muncul sebagai buah dari sikap keimanan yang kuat, loyalitas penuh kepada Allah, dan keberanian menanggung resiko demi mempertahankan yang haq. Dalam bahasa agama kita, loyalitas penuh kepada Allah ini, disebut dengan ikhlas. Imam Ghazali menyatakan: تجرد الباعث الواحد لله تعالى “Ketunggalan motivasi diri, yaitu hanya karena Allah” Dengan keikhlasan ini, kita selalu stabil dalam membawa diri, sebab pangkal pandangannya hanyalah Allah SWT. Lebih jauh dapat dikatakan, bahwa keikhlasan adalah suatu jenjang (dimensi) di mana bertemu antara prakarsa Allah dan keluhuran budi manusia. Baca Selanjutnya . . .

NU dan Kemaslahatan Dunia

durasi baca: 3 menitOleh : KH Ali Maksum Tidak saja warga dan pengurus NU, tetapi seluruh bangsa Indonesia mengharapkan agar seluruh program-program NU sejalan dan mendukung program pembangunan nasional. Kalau ini terjadi berarti kemanunggalan ulama umara secara terbuka dan wibawa, InsyaAllah akan tercapai. Dengan demikian terpenuhi modal dasar dalam ikhtiar mewujudkan kemaslahatan bangsa dan negara. Dalam kitab “Adabud Dunya wad Din”, Imam al Mawardi menyebutkan enam hal yang harus dipenuhi guna kemaslahatan dunia, yaitu: 1. الدين المتبع atau agama yang dianut. Kita jelas mempunyai agama dan bahkan hal ini menjadi isyarat mutlak bagi pengamalan Pancasila. Dalam kaitan ini, agama berfungsi antara lain menjadi Baca Selanjutnya . . .

Belajar dari Sejarah Kejayaan NU

durasi baca: 3 menitOleh : KH Ali Maksum Kejayaan NU adalah hal yang sangat mungkin kita capai kalau kita mau cermati sejarah perjalanan NU dan pasang surut pamornya. Kita tahu, sejak NU berdiri tahun 1926 adalah masa perkembangan NU, yang klimaks kejayaan pamornya sekitar tahun 1967-1969. Kemudian pada tahun 1970-1982, NU hidup dalam keadaan afounturir dan tidak menentu. Jika kenyataan itu kita teliti maka kejayaan NU terjadi disaat NU berhubungan erat dan berkoalisi dengan pemerintah. Adapun periode di mana NU hidup tak menentu, adalah di saat-saat NU renggang dengan pemerintah karena alasan tertentu. Sekarang, kami dan kawan-kawan PBNU merintis keeratan kembali hubungan kita Baca Selanjutnya . . .