Meriahkan Kirab Hari Santri Nasional; Nurussalam Krapyak Delegasikan 80 Peserta

durasi baca: 2 menitSantri Nurussalam Krapyak sedang mengikuti Kirab [doc. Naya] almunawwir.com (Malioboro) – Ahad  (29/10/17) Ribuan santri dari berbagai pondok pesantren di Yogyakarta ikut memeriahkan acara Grebeg Santri dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional ke-3 yang berlokasi di sepanjang jalan Malioboro. Event ini merupakan puncak dari rangkaian acara HSN sejak 22 Oktober lalu. Selain diikuti oleh 26 pondok pesantren di Yogyakarta, acara ini juga dihadiri oleh polres DIY, K.H Najib Abdul Qodir, serta ratusan pengunjung yang memadati jalan Malioboro. Grebek Santri yang baru kali ini digelar di Yogyakarta mengambil rute yakni start dari gedung DPRD Kota Yogyakarta dan berakhir di alun- alun utara. Baca Selanjutnya . . .

AKU BANGGA MENJADI BAGIAN DARI NEGERI

durasi baca: 4 menit…kunci utama pertahanan negara adalah adanya moralitas yang sangat tinggi di kalangan generasi mudanya. Oleh : Neng Fahma Pengalaman saya kali ini adalah tentang hari santri sesuai janji Bapak Presiden ketika kampanye di salah satu Ponpes di daerah Malang. Salah satu pencapaian beliau selama masa kepemimpinan ini adalah ditetapkannya hari santri sebagai hari nasional tanpa bermaksud untuk memecah belah mana yang santri dan mana yang bukan santri. Saya sebagai santri merasa sangat tersanjung dengan ketetapan Bapak Presiden ini. Ternyata saya dan seluruh santri di negeri ini di akui. Bukan tanpa sebab Bapak Presiden menetapkan hari santri ini sebagai hari nasional. Baca Selanjutnya . . .

Ihwal Kebahasaan Tindak Tutur “Ngaji, Ngaji, Ngaji Sudah Siang”

durasi baca: 3 menit[su_quote]…sebelum merasa hampa harimu tanpa nderes, bersemayamlah dalam sangkar “ngaji, ngaji, ngaji sudah siang”[/su_quote] Oleh: Afqo Oktober di Indonesia, diperingati sebagai “Bulan Bahasa”. Entah, Anda ikut merayakannya atau tidak, saya kurang tau. Tapi, dalam tulisan ini, saya akan merayakannya dengan mengulas hal ihwal bahasa serta kebahasaan yang ada di pesantren. Kultur pesantren yang kaya, kultur pesantren yang unik sekaligus menarik. Kebahasaan pesantren yang saya maksud itu adalah “Ngaji, ngaji, ngaji sudah siang”. Sebuah dawuh dari Mbah Kiai Najib Abdul Qodir Munawwir, yang ajeg dan nggak pernah lupa beliau sampaikan kepada para santri setiap ba’da talaqqi (menelateni qiro’ah kiai). Kehilangan terbesar Baca Selanjutnya . . .

Aku Terbangun di Sepertiga Malam

durasi baca: 2 menitOleh: ikhwan din* Tulisan ini untuk diriku dan kalian—siapapun yang sedang berjuang di perantauan. Tuhan, malam ini aku terbangun di sepertiga malam. Ya, tak seperti biasa santri santri lakukan di tengah malam yang bangun untuk menunaikan “tahajud”. Kali ini aku terbangun. Dengan wajah yang masih berantakan, aku duduk di atas alas tempat tidurku. Sambil menengadahkan kepalaku ke atas, menatap langit-langit kamar yang sengaja kugelapkan. Bagaimana bisa aku tertidur lelap? sedang orangtuaku disana hanya mampu memejamkan mata barang satu jam-dua jam saja Bagaimana aku bisa makan dengan lauk yang enak? sedang orangtuaku di rumah, hanya makan dengan lauk yang sangat sederhana. Bapak Baca Selanjutnya . . .

Suka – Duka menjadi Muadzin Krapyak dan Pendengaran adalah Kunci

durasi baca: 4 menit  Kita susah menyadari bahwa telinga kita adalah organ pertama yang sanggup kita gunakan sejak pertama kali dilahirkan. Pendengaran akan merespon penglihatan serta mulut untuk bekerja. Akan sia-sia bila kita mencoba untuk menahan telinga kita untuk tidak mendengar, barang sekali pun. Meskipun kita sedang terkonsen pada satu hal, pasti hal lain disekitar kita akan terdengar pula.  Oleh : AFQO* Mencoba merasa dekat dengan Tuhan adalah impian semua orang beriman. Jangankan hanya ingin dekat, memanggil Tuhan dalam adzan pun, terkadang diidam-idamkan. Bahkan suatu persaingan. Tapi ini bukan soal bersenandung enak di bawah lindungan payung Adzan. Sama sekali bukan. Ini persoalan penghargaan Baca Selanjutnya . . .

Teori Stephen R. Covey; “Menjadi Manusia Efektif dan Produktif”

durasi baca: 3 menitMenuliskan tujuan dalam hidup sudah banyak dipahami sebagai salah satu upaya penting dan serius dalam menggapai impian. Namun sebenarnya semua pencapaian manusia memiliki dua fase penciptaan, yaitu ketika diciptakan di dalam mental serta ketika diciptakan secara nyata. Seperti sebuah blueprint, bentuk nyata dari sebuah pencapaian akan mengikuti bagaimana ia diciptakan dalam mental. Oleh: Sa’adah* Beberapa hari lalu, saya mengikuti pelatihan kader muda ekonomi yang bertema “Santri Mandiri Prestasi Negeri” yang diselenggarakan oleh Pengurus Departemen Pemberdayaan Ekonomi Pondok Pesantren Al-Munawwir. Dalam pelatihan ini, materi disampaikan oleh saudara Ahsan yang mencoba membahas pembahasan “The 7 Habits of Highly Effective People” menurut Stephen Baca Selanjutnya . . .

Kapolres Bantul; “Hari Santri Sebagai Revitalisasi Etos Moral Kesederhaan”

durasi baca: 2 menit  Selamat Hari Santri Nasional 2017. Santri kuat, NKRI hebat. Kapolres Bantul POLDA DIY Beri Amanat pada Upacara Hari Santri 2017 di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta almunawwir.com (Krapyak) – Kapolres Bantul Imam Kabut Sariadi, S.IK., MM. Pada hari Minggu, 22 oktober 2017 menjadi pembina upacara dalam rangka memperingati hari santri nasional di halaman pusat Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta. Upacara ini dihadiri oleh sejumlah pengasuh dan Ahlen Pondok Pesantren Al Munawwir serta seluruh santri Al-Munawwir. Upacara dimulai dengan pembacaan Pancasila, pembacaan ikrar santri, menyanyikan lagu “hubbul wathon minal iman”, Tanah Airku dan Indonesia Jaya kemudian dilanjutkan dengan  amanat pembina upacara Baca Selanjutnya . . .

Seminar Kebangsaan: “Mewujudkan Kedaulatan NKRI”

durasi baca: 2 menitalmunawwir.com (Krapyak) – Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak menjadi tuan rumah seminar kebangsaan yang di digelar oleh PWNU DIY, Sabtu (21/10/2017). Sebanyak kurang lebih 100 peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat menghadiri acara pembinaan santri tentang wawasan kebangsaan yang diadakan oleh PWNU DIY bertempat di Aula G Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak. Mengusung tema Aktualisasi Resolusi Jihad di Era Reformasi acara kemarin menjadi salah satu agenda dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 oktober 2017. Perwakilan Wakil Gubernur DIY, Biro Administrasi Kesra dan Kemasyarakatan DIY yang berkesempatan memberikan sambutan memaparkan mengenai jihad para santri dulu yang Baca Selanjutnya . . .

Ketika Santri Menghapus Luka Negeri

durasi baca: 3 menitFoto Dokumentasi Media Al Munawwir … dalam bahasa beliau tersebut lima elemen, yakni sabar, menerima apa adanya, murah hati, tekun dan giat. Disinilah letak Revolusi Mental Santri. Oleh: Afqo Moralitas dibenturkan dengan zaman yang kian kaku (tidak manusiawi) sebab globalisasi dan modernisasi. Kelelahan kita dalam integrasi solidaritas umat nampak nyata terlihat. Menyerah sebelum bertanding, mental moralitas kita berhenti di sana, atau dengan kata lain masyarakat Indonesia dewasa ini menjadi masyarakat yang oleh Amin Abdullah (2016) disebut sebagai Masyarakat Krisis”, dalam bentuk apapun dan kondisi apapun. Mengingat urgensi moralitas, pesantren sebagai institusi pendidikan, mengkader santri untuk bersikap terbuka, luwes, dan berpandangan Baca Selanjutnya . . .

Peluang Usaha Era Santri Milenial: “Santri Mandiri Prestasi Negeri”

durasi baca: 3 menitalmunawwir.com (Krapyak) – Departemen Pemberdayaan Ekonomi Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak gelar kegiatan berbasis santri entrepreneur sekaligus salah satu agenda Open Recruitment Anggotanya. Agendanya berupa Talkshow Bisnis bersama wanita tangguh “Pejuang Bisnis dari Nol”. Tujuannya menciptakan Santri Mandiri Prestasi Negeri”. Kamis (19/10). Dalam agenda ini, Direktur departemen pemberdayaan ekonomi Pondok pesantren Al-Munawwir, Muhammad Kholis Habibi menyampaikan bahwa tujuan diselenggarakannya acara ini yaitu : Pertama, untuk menjaring kader muda ekonomi khususnya santri Almunawwir. Nantinya mereka diberdayakan untuk bergabung di departemen pemberdayaan ekonomi. Kedua, membuat jejaring atau koneksi antar santri yang memiliki atau sedang merintis usaha. Disamping kewajibannya untuk menuntut ilmu di pondok ini. Ketiga, Baca Selanjutnya . . .

Apa Salah dan Dosa Santri Putri, hingga Kungapusi Mbah Kiai

durasi baca: 4 menitSebelum Tahun 1985 Ponpes Krapyak adalah Pesantren khusus laki-laki, kecuali Komplek Nurussalam yang diasuh oleh Mbah KH. Dalhar Munawwir. Saat itu kemanapun anda memandang, yang nampak di sudut Pesantren hanyalah Makhluk ‘Pecisan’ dan ‘Sarungan’, yang kadang-kadang ‘ora celonoan’ atau tidak pakai celana. Bahkan kalau ada makhluk berkerudung masuk Pesantren. Tanpa dikomando akan terdengar suara; Suit…Suiiit… Paket… Pakeeeet… Suara itu saling bersautan dengan sangat nyaring. Waktu itu sempat aku berfikir, “Kenapa kok tidak menerima Santri Putri ya?. Terutama Madrasah Tsanawiyah dan Aliyahnya yang menurutku, kecuali telah tersohor, juga mempunyai SDM yang lebih dari cukup. Pengasuhnya pun ‘alim-‘allamah. Ustadz dan Gurunya sama Baca Selanjutnya . . .

Silaturrahmi Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad, Mangkoso, Sulawesi Selatan

durasi baca: 2 menitalmunawwir.com (Krapyak) – Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta berkesempatan menjadi tuan rumah dalam acara silaturrahmi dan kunjungan atau study tour rombongan santri Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI),  Mangkoso, Sulawesi Selatan, yang beranggotakan sekitar 30 santri dan beberapa ustadz-ustadzah pendamping. Tujuan kedatangan dari rombongan ini adalah untuk study banding tentang pegelolaan Pesantren. Setibanya di Al Munawwir, para rombongan ini disambut hangat oleh Ustad Abdul Jalil dan Pengurus pusat, sekitar pukul 08.00 WIB di Gedung Aula G, Ahad (08/10/17)  serangakian kegiatan audiensi dimulai dengan suasana yang penuh hangat dan kekeluargaan. Dalam agenda silaturrahmi ini, salah satu pembina Pondok Pesantren Baca Selanjutnya . . .

Melihat Wajah Islam Moderat Indonesia

durasi baca: 4 menit  “Apakah kalian juga menyanyi?” Tanya Laura kepada kami selepas menyaksikan mahallul qiyam Maulid Diba’ di aula komplek Ribathul Qur’an wal Qiraah. “Ya, kami juga menyanyikannya setiap Kamis malam. Ini semacam syair Islam.” “That’s beautiful.” Ujar perempuan Spanyol itu. Malam itu Kamis (27/7), Laura dan rombongannya diajak berkeliling melihat suasana dan bangunan-bangunan komplek di PP. Al Munawwir Krapyak Yogyakarta. Sejumlah santri, termasuk saya dan seorang kawan santri putri, berkesempatan menyambut para tamu tersebut. Laura datang bersama tujuh orang lainnya sebagai delegasi dari Parlemen Eropa (European Parliament). Dalam kunjungannya selama sepuluh hari di Indonesia, mereka bertandang ke empat kota: Jakarta, Semarang, Baca Selanjutnya . . .

Tawa itu Luka dan Betapa Khilafnya Kita

durasi baca: 4 menitOleh : Afrizal Qosim “Jo kakean ngguyu! ndak apalanmu ilang! Dasar santri jaman now!”, gertak Lek Jo– senior pondok yang berusaha menuturi sekumpulan santri yang bercanda, tertawa terpingkal-pingkal hingga seantero komplek terdengar. Kebribiken. Sebelumnya Lek Jo lagi serius nderes di aula, menyiapkan setorannya tuk nanti malam, sampai bangkit lantas mencari dan mendekati sumber kegaduhan. Lek Jo yang masyhur suka melabrak santri baru/“tjah nyar”, mengakali dengan memplokoto menyuruh ini dan itu, mendidik dengan mem-bully prasangka yang bermakna ganda, berujung pada status “seng dituakno” oleh santri sepondok kepadanya. Lek Jo berkecak pinggang selagi menuturi mereka. Sedang Karim, Jarwo, Pantoso dan Fredi kaguk, Baca Selanjutnya . . .

Road to Hari Santri : “Santri dan Permasalahan Masa Kini”

durasi baca: 3 menitOleh : Hafidzoh* Dua pekan lagi. Santri se-Indonesia akan menikmati euforia hari Santri. Sejenak menikmati euforia sembari mengenang perjuangan santri dan kyai dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan negeri. Tapi saya sarankan jangan terlalu menikmati kesenangan. Negara ini tidak dibangun dengan canda tawa saja. Nyawa dan darah sudah menjadi hal biasa ditemukan di sekitar. Bisa jadi tanah yang kita injak, kita duduki, dan kita tiduri sekarang adalah bekas para pendahulu kita yang mati-matian mengusir penjajah. Memasuki era milenium (kata yang lagi ngehitz saat ini), meneruskan perjuangan memang bukan lagi melalui perang senjata. Tetapi perang dengan otak. kenapa saya menyebutkan jangan terlalu Baca Selanjutnya . . .