Majlis Istima’il Qur’an Malem Sabtu Wage

durasi baca: 2 menit Sima’an Rutin Malem Sabtu Wage Kembali digelar, (Sabtu, 2 Sya’ban 1438 H) Krapyak berkumandang Al Qur’an dimalam Sabtu wage, seiring awan yang yang cerah tanpa mendung ini menjadi semangat santri dalam mengikuti sebuah acara yang diadakan di Serambi masjid yang adem, ayem tur tentrem, membuat para santri nyaman mengikutinya. Sema’an Al Qur’an, merupakan kegiatan rutinan yang diselenggarakan disetiap bulannya, yakni pada malam sabtu wage.  Kegiatan yang diadakan di Serambi Masjid Pondok pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, kegiatan ini dimulai ba’da Isya’. Kemudian diikuti oleh santri-santri pondok Pesantren Krapyak, baik dari Al Munawwir maupun dari Ali Maksum. Kegiatan yang merupakan kegiatan Baca Selanjutnya . . .

Belajar Berkarya dari Sang Pionir Kamus (Mengenang 4 Tahun KH. A. Warson Munawwir)

durasi baca: 3 menit Oleh : Hafidhoh Ma’rufah* Pagi-pagi, sekitar ba’da Shubuh, Lurah Pondok, Khalimatu Nisa mengumumkan mengenai hari ini, 18 April 2017, empat tahun lalu pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek Q kembali ke rahmatullah. Seruan ke Maqbarah secara berjama’ah dari lurah, menyebar ke seluruh penjuru pondok. Cukup mendadak memang seruan ziarah ini, tapi bukan pesantren namanya jika santri tidak bersemangat untuk ziarah ke makam Kiainya. Pesantren terkenal dengan sistem figure sebagai role of mode, dalam hal ini Kyai adalah figure tersebut. Baik model berfikir, berbusana, maupun cara berpendapat yang digunakan kyai dalam menanggapi problema masyarakat. Kiai begitu kharismatik, jika kita bertanya pada santri Baca Selanjutnya . . .

Budaya dan Islam

durasi baca: 3 menit Oleh : Muhammad Najib Murobbi* Berbudaya kah kita? Budaya tercipta dari sebuah kebiasaan hingga menjadi adat istiadat bahkan tidak sedikit menjadi sebuah “Hukum” wajib. Rasanya seperti pergi ke burjo, makan lalu merokok. Kurang mantap rasanya jika sehabis makan tidak merokok. Merokok saja bisa dikatakan menjadi budaya, namun bukan sebuah adat istiadat. Ternyata budaya sendiri seperti mempunyai batasan, kira-kira kalau cocok dan pas boleh-lah menjadi adat istiadat. Berawal dari kebiasaan, budaya, hingga adat istiadat. Budaya di Indonesia, jangan tanya sudah berapa yang beraneka ragam. Bahkan satu budaya saja bisa berbeda-beda namanya, namun substansinya sama. Masyarakat yang berbudaya berarti mempunyai kebiasaan, kebiasaan Baca Selanjutnya . . .

Mbah Munawwir, Barzanji dan Kasihnya kepada Santri

durasi baca: 3 menit Mbah Munawwir masyhur sebagai Ulama’ ahlul qur’an Besar Nusantara. Nama beliau tertulis abadi dengan tinta emas di hati para penghafal dan pecinta Al-Qur’an di Bumi Pertiwi ini. Sanad Al Qur’an di Nusantara, tidak bisa dilepaskan dari nama beliau. Cucu KH. Hasan Besari ini, dibesarkan dalam lingkungan agamis. Sedari kecil beliau diasuh langsung oleh ayahandanya KH. Abdullah Rosyad dengan pemantik semangat hadiah sebesar Rp. 2,50—apabila dalam seminggu Munawwir kecil dapat mengkhatamkan Al-Qur’an sekali. Begitu seterusnya, sampai beliau belajar ke Mbah Abdurrahman Watucongol, Mbah Sholeh Darat Semarang, Mbah Kholil Bangkalan Madura, Mbah Abdullah Kanggotan Bantul, hingga berguru dan Riyadhoh ke Makkah dan Baca Selanjutnya . . .

Santri dan Dunia Literasi

durasi baca: 2 menit Oleh : Muhamamd Izzat Firdausi* Membaca dan menulis adalah kegiatan harian santri kapan dan di manapun. Dapat dikatakan bahwa kedua kegiatan tersebut adalah jendela untuk masuk ke dalam dunia literasi. Santri yang telah masuk ke dalam dunia tersebut bisa diibaratkan katak yang telah terbebas dari tempurung yang selama ini mengurungnya, ia bebas, ia dapat memandang dunia lebih luas, menjelajah dunia lebih jauh, dan bertutur-berlaku lebih bijak. Dua kegiatan literasi tersebut dilakoni santri dari pagi hingga malam; membaca  Al Qur’an (menambah -mengulang hafalan), menerjemah, mempelajari gramatika, kesusastraan, akhlak, hukum, kaidah hukum, tafsir, tauhid, dan lain-lain. Sebuah pertanyaan sederhana, apakah kegiatan seabrek Baca Selanjutnya . . .

Jurnalistik Sebagai Tradisi Vital Dakwah Pondok Pesantren di Era Modernitas

durasi baca: 5 menit Oleh : Muhammad Najib Murobbi* Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara. Sekitar lebih dari satu abad pondok pesantren berdiri di tanah Nusantara. Dalam kurun waktu yang panjang, pesantren menghadirkan berbagai tradisi yang menjadi ciri khas pendidikan pondok pesantren. Jurnalistik menjadi salah satu ciri khas pondok pesantren. Pada era keemasan jauh sebelum pondok pesantren ada, tradisi tulis menulis atau jurnalistik sudah menjadi ladang dakwah para Ulama Nusantara bahkan Ulama di negara lain. Ulama terkemuka seperti Imam Ghozali (1058 M – 1111 M) dengan karyanya yang begitu fenomenal Ihya U’lumuddin, Bidayatul Hidayah, dan puluhan kitab lainnya. Hadhratus Syeikh K.H Hasyim Baca Selanjutnya . . .

Rutinan Jum’at Pahing, Bu Nyai Ida Bernasehat Pengorbanan Rasululullah SAW

durasi baca: 3 menit Kanjeng Nabi berkata : “mangke riyen malaikat (Nanti dulu malaikat). Tolong tanyakan kepada Allah SWT, nopo inggih ummat kulo mangke anggeripun bade sowan dicabute kados nggoten sakitipun? (Apa iya besok apabila ummatku akan dicabut nyawanya sakitnya seperti ini?)” KRAPYAK, 7/4/2017, bertempat di Aula AB Pondok pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, berlangsung pengajian rutinan jumat pahing yang diadakan oleh Ibu Nyai Ida Fatimah Zainal, MSI–Pengasuh pondok putri Komplek R2 Al-Munawwir Krapyak. Acara yang diikuti oleh kurang lebih 100 warga yang mayoritas ibu-ibu lanjut usia ini dimulai tepat pada pukul 14.00 WIB. Rutinan kali ini dibuka oleh Ibu Nyai Umi Salamah dilanjutkan pembacaan Baca Selanjutnya . . .

Sekilas Tentang Sosok KH. R. Abdul Qodir Munawwir Krapyak Yogyakarta

durasi baca: 9 menit “Saya mengaji Fatihah dengan Mbah Arwani satu minggu selesai, tetapi dengan Mbah Qodir satu bulan, masyaallah. Kadang hati setengah jengkel (ngaji nggak tambah-tambah), tetapi anehnya setiap beliau keluar dari pintu tengah, siap mengajar anak-anak pasti yang saya tatap adalah wajah yang ceria, senyum yang khas.. plengeeh.. seakan hati saya disihir, lenyap rasa gundah saya. Saya jadi semangat untuk mengaji.” – KH. Munawir Abdul Fatah (Anggota MUI Provinsi DIY) – Mengemban Amanah R. Abdul Qodir Munawwir, atau Romo Kyai Qodir, dilahirkan pada Sabtu Legi 11 Dzulqo’dah 1338 H bertepatan dengan 24 Juli 1919 M. Beliau adalah salah satu putraal-maghfur lah KH Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad Baca Selanjutnya . . .

KH. Ahmad Munawwir dalam Bingkai Semelo Jombang

durasi baca: 3 menit “Ketika seseorang telah memantapkan hati untuk menjadi seorang hamba yang menjaga kalamNya. Tentunya ada tanggung jawab besar yang dipegangnya, yaitu dengan tetap istiqomah nderes Quran meskipun sudah hafal. Sebab hafalan bila tak pernah dibaca juga akan lupa. Begitu pula yang dilakukan oleh KH Ahmad Munawwir. Beliau senantiasa nderes supaya tetap terjaga hafalan Qurannya. Pun bukan sekedar hafal akan tetapi juga sudah menjadi tabiat bagi ahli Quran untuk mengamalkan apa yang ada dalamnya. Jadi pastilah beliau merupakan sosok yang istiqomah “. Oleh: Muhammad Zaki Fahmi dan Lilik Maryanto* Al ajru ‘ala Qodri Ta’bin, hasil itu sesuai dengan apa yang diusahakan. Mungkin Baca Selanjutnya . . .

Dinamika Demokrasi Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Komplek L

durasi baca: 3 menit Krapyak, Komisi Musyawaroh Santri (KMS) Pondok Pesantren Al Munawwir Komplek L mengadakan Rapat Tahunan Pondok (RTP). Jum’at (14/4) Sidang Pleno III tentang Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) pengurus kali ini   diterima seperti biasa. Pada awalnya, peserta yang menghadiri kuorum tidak memenuhi syarat yang sudah ditetapkan dalam Tata Tertib KMS untuk melaksanakan laporan pertangung jawaban. Akan tetapi, semua persyaratan itu diserahkan kembali ke kuorum untuk menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga Sidang Pleno III (LPJ) tetap dilaksanakan. Peserta Sidang Pleno III terdiri dari tamu undangan yaitu para Asaatidz, pengurus demisioner, sesepuh blok, dan Dewan Perwakilan Santri (DPS) Peserta yang hadir kali ini sangat sedikit Baca Selanjutnya . . .

Inovasi Tradisi Pesantren Berbasis Maqashid Syari`Ah

durasi baca: 5 menit Oleh: Muhamad Abdul Faqih* Pendahuluan Indonesia dan pesantren ibarat satu keping mata uang yang tak terpisahkan. Hal ini dibuktikan melalui fakta, bahwa apabila muslim Indonesia diperbincangkan, maka kesan pertama yang muncul adalah pesantren. Tak aneh memang, karena jumlah pesantren di Indonesia adalah yang paling banyak di dunia. Berdasarkan Data Kementerian Agama Republik Indonesia, jumlah pesantren di Indonesia pada tahun 2012 saja sudah mencapai jumlah yang fantastis, yakni sebanyak 27.230. Menjamurnya pesantren di Indonesia disebabkan oleh ikatan sejarah yang kuat antara keduanya. Para sejarawan mengemukakan bahwa pesantren telah ada di Indonesia sejak tahun 1200. Pada masa itu, pesantren menjadi motor perkembangan Baca Selanjutnya . . .

Lingua Franca Santri: Sebuah Tradisi yang Perlu Dimaknai Kembali

durasi baca: 5 menit Oleh: Maya Ulfatul Umami* Ada sebuah paradoks tentang tradisi pesantren. Di satu sisi pesantren memiliki akar yang kuat di bumi Indonesia. Pondok pesantren pun bisa dikatakan khas Indonesia ketika menggunakan suatu lembaga yang tradisional. Namun di sisi lain, tentunya dalam beberapa aspek akan berbeda dengan sekolah tradisional di dunia Islam manapun. Di sisi lain, pesantren akan berorientasi internasioanal dengan Makkah dan Madinah sebagai pusat orientasi, bukan Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya ulama yang menimba ilmu di Timur Tengah dan berguru langsung kepada para Syaikh disana. Sebut saja Syaikh Nawawi Al Bantani, Hamzah Fansuri, Mahfudz At Tarmasi, Hasyim Asy’ari Baca Selanjutnya . . .

Santri Milenial

durasi baca: 5 menit Oleh : Muhammad Izzat Firdausi* Pesantren merupakan wujud perlawanan Indonesia terhadap gempuran globalisasi, dan garda depan negara di era kolonialisme. Konsep pesantren merupakan modifikasi dari konsep pengajaran Hindu-Budha di nusantara pra kemerdekaan. Tidak ada sumber akurat yang menyatakan kapan pertama kali pola pendidikan macam pesantren dimulai. Namun fungsi pesantren sebagai basis dakwah dan pengkaderan sudah ada semanjak era Walisongo, yakni sekitar abad 15. Pesantren Era Kolonial Pada abad ke 18-19 era kolonialisme (penjajahan) Indonesia, Belanda rajin mengeluarkan peraturan yang membatasi ruang gerak pendidikan islam. Sampai-sampai Belanda membentuk suatu badan khusus bernama Priesterraden yang bertugas mengawasi kehidupan keberagaman dan pendidikan islam, khususnya Baca Selanjutnya . . .

Informal Leader sebagai Revitalisasi Tradisi Pesantren

durasi baca: 4 menit Oleh : Fachriza Nur Ichsani* Pesantren merupakan lembaga sekaligus sistem pendidikan tertua di Indonesia. Beberapa sejarawan ada yang menyebut, pesantren telah ada pada zaman Wali Songo. Keberadaan pesantren didambakan, tetapi kadang pesonanya tak mampu membetahkan penghuninya. Pesantren sering dicibir sebagai bagian dari kamuflase kehidupan, karena lebih banyak mengurusi soal ukhrowiyah ketimbang duniawiyah. Pesantren juga sering disebut sebagai pusat kehidupan, karena memproduksi kehidupan zuhud yang mengabaikan dunia materi. Padahal, orang pesantren menikmati kesederhanaan sebagai bagian dari panggilan moral keberagamaan Pesantren bukan hanya sebagai wadah pendidikan agama saja akan tetapi didalam pesantren juga memiliki pola yang khas yang terdapat dalam pendidikan pesantren Baca Selanjutnya . . .